Lestari Moerdijat: Peran Masyarakat Adat Penting dalam Bangkitkan Kembali Ekosistem Pangan Lokal
📅 Rabu, 20 Mei 2026, 19:47 WIB | Oleh: SriyonoJAKARTA - Semangat Kebangkitan Nasional harus mampu mewujudkan pemahaman dan pengetahuan anak bangsa, terkait pentingnya peran masyarakat adat dalam melestarikan keanekaragaman hayati dan sumber pangan di Tanah Air.
“Wilayah adat menyimpan banyak kawasan hutan dan sumber pangan lokal yang penting bagi keberlanjutan ekosistem. Masyarakat adat merupakan benteng terakhir dalam penyelamatan keanekaragaman hayati dan perwujudan kedaulatan pangan berkelanjutan,”kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat saat membuka diskusi daringbertema Keanekaragaman Hayati, Masyarakat Adat, dan Pangan yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12 , Rabu (20/5).
Diskusi yang dimoderatori Arimbi Heroepoetri, S.H., L.LM (Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI) itu, menghadirkan Hilmar Farid, Ph.D (Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek RI periode 2019 – 2024), Helianti Hilman, S.H., L.LM (Founder Javara Indigenous Indonesia), dan Dicky Senda (Pendiri Komunitas Lakoat Kujawas) sebagai narasumber.
Selain itu hadir Sapariah Saturi (Managing Editor di Mongabay Indonesia) sebagai penanggap.
Menurut Lestari, peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei yang mengusung tema Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara, berkorelasi erat dengan tema peringatan hari Keanekaragaman Hayati Internasional pada 22 Mei mendatang yang mengusung tema Bertindak pada Ranah Lokal yang Berdampak Global.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dua peringatan tersebut, ujar Lestari, berupaya membangun momentum untuk membangun kepedulian para pemangku kepentingan dan masyarakat terhadap masa depan.
Lestari berpendapat bahwa di tengah ancaman krisis iklim dan penyeragaman konsumsi, wilayah adat terbukti mampu menjaga ekosistem sekaligus menyediakan sumber nutrisi yang melimpah secara mandiri.
Data Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) mencatat, sedikitnya 4,9 juta hektar areal budidaya masyarakat adat menjadi tumpuan sistem pangan lokal mandiri.
Sebaiknya Anda baca juga:
Masyarakat adat dan komunitas lokal, ujar Lestari, secara tradisional terbukti ikut melestarikan 80% biodiversitas dunia.
Rerie, sapaan akrab Lestari, mengungkapkan bahwa keanekaragaman hayati di Indonesia merupakan sumber pangan yang kerap terlupakan.
Padahal, ujar Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat Indonesia memiliki lebih dari 5.500 jenis tanaman pangan dan 33.000 jenis tanaman obat.
Rerie menambahkan, data historis menunjukkan bahwa di masa lalu, konsumsi pangan pokok masyarakat Indonesia masih sangat beragam, yaitu beras (53,5%), singkong (22,26%), jagung (18,9%), sagu dan umbi-umbian (4,99%).
Tetapi dalam perkembangannya, ujar dia, terjadi penyeragaman masif di mana konsumsi nasional didominasi oleh beras (74,6%) dan gandum (25,4%).
Penyeragaman itu, jelas Rerie, mendesak wilayah adat untuk membuka lahan tanaman industri pangan monokultur yang justru merusak tata ruang lokal. “Padahal, kita mampu membangun ketahanan pangan berbasis kearifan lokal. Setiap inisiatif pembangunan mesti bertolak dari modalitas pengetahuan dan kearifan lokal yang kita miliki,” pungkas Rerie.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!