Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Petani Milenial Blora Raup Ratusan Juta dari Budi Daya Melon Pertiwi

📅 Rabu, 13 Mei 2026, 08:16 WIB | Oleh: Tim Penulis
Petani Milenial Blora Raup Ratusan Juta dari Budi Daya Melon Pertiwi Doc: ANTARA
Ket. Buah melon jenis Pertiwi hasil budi daya petani milenial di Kabupaten Blora memiliki ukuran besar dengan kualitas kulit dan tingkat kematangan yang siap dipasarkan ke berbagai daerah, termasuk Jakarta dan Semarang.

BLORA – Seorang petani milenial asal Dukuh Tambakampel, Desa Tambahrejo, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, berhasil membudidayakan melon pertiwi sekaligus mematahkan anggapan bertani identik dengan pekerjaan berat dan kurang menjanjikan.

Teddy Purnomo (28), pemuda yang menekuni budi daya melon di Blora, Rabu (13/5), mengakui bersama keluarganya mulai bertani sejak 2012. Kemudian tahun 2019 mencoba mengembangkan melon jenis pertiwi dan amanda di lahan seluas sekitar satu bau atau hampir satu hektare.

"Kalau tanamannya bagus, hasil panen bisa mencapai 40 ton," ujarnya.

Menurut dia hasil panen sangat bergantung pada perawatan tanaman. Mulai dari pemupukan hingga pengendalian hama. Salah satu pupuk yang digunakan ialah pupuk mutiara untuk menunjang pertumbuhan buah.

Dalam satu pohon, lanjut Teddy, biasanya dapat menghasilkan dua buah melon dengan berat rata-rata sekitar dua kilogram per buah.

"Kalau muncul tiga buah, ukurannya cenderung lebih kecil, sekitar 1,5 kilogram sampai 1,6 kilogram," ujarnya.

Teddy menjelaskan harga jual melon saat ini berkisar Rp7 ribu per kilogram. Dengan asumsi panen mencapai 40 ton, omzet yang diperoleh dapat menembus sekitar Rp280 juta dalam satu musim tanam.

Meski demikian, dia menyebut keuntungan bersih yang diterima petani tetap dipengaruhi biaya produksi dan kondisi pasar.

"Kalau sekarang harga turun, jadi tergantung nota dan penebas," ujarnya.

Hasil panen melon tersebut umumnya dijual secara tebasan kepada pengepul, kemudian dipasarkan ke sejumlah daerah seperti Jakarta, Pasar Induk Kramat Jati, Semarang, dan wilayah lainnya.

Teddy mengaku memilih bertani karena menilai pekerjaan tersebut lebih fleksibel dan memiliki prospek menjanjikan jika ditekuni secara serius. Sehingga generasi muda juga memiliki peluang besar untuk terjun ke sektor pertanian modern, terutama jika dibarengi inovasi dan ketelatenan dalam merawat tanaman.

Teddy mengatakan panen melon dilakukan setiap 60 hari sekali atau sekitar tiga kali dalam setahun. Sehingga sejak 2025 menjadi salah satu pemasok buah di wilayah Blora.

Selain mengelola lahan di Desa Tambahrejo, Teddy juga menyewa lahan di sejumlah wilayah lain di Kabupaten Blora, yakni di Dukuh Nglego, Kecamatan Jepon seluas satu hektare, Desa Sendangsari, Kecamatan Tunjungan seluas setengah hektare, serta Desa Mbrebak, Kecamatan Ngawen seluas setengah hektare.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Daerah
Profesor ITS Buat Material ...

25 Dosen UB Perkuat Pembangunan Kawasan Transmigrasi

1 jam lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Daerah
25 Dosen UB Perkuat Pembang...
Luar Negeri
Geliat Ekspor Perikanan Vie...
Luar Negeri
Jepang Darurat Kokain: Angk...
Manusia Tak Beradab, Penyembelih Binatang Superlangka, Tapir, Harus Dihukum Berat

Manusia Tak Beradab, Penyembelih Binatang Superlangka, Tapir, Harus Dihukum Berat

03 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.