Ekonom Ingatkan Bond Stabilization Fund Tak Akan Mampu Lawan Krisis Fundamental
📅 Minggu, 10 Mei 2026, 23:59 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Pengaktifan kembali bond stabilization fund (BSF) mencerminkan upaya pemerintah menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah meningkatnya volatilitas global dan tekanan terhadap pasar obligasi domestik.
Instrumen ini diharapkan mampu meredam gejolak harga surat utang negara serta menjaga kepercayaan investor saat terjadi arus keluar modal asing.
Namun, efektivitas BSF sangat bergantung pada kredibilitas kebijakan fiskal dan koordinasi antarotoritas.
Jika tidak disertai penguatan fundamental ekonomi, penggunaan BSF berisiko hanya menjadi solusi jangka pendek yang tidak cukup mampu mengatasi tekanan pasar secara menyeluruh.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai pengaktifan kembali bond stabilization fund (BSF) dapat efektif menjaga stabilitas pasar surat utang negara apabila tekanan pasar bersifat teknis dan sementara.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tekanan dimaksud seperti terjadinya aksi jual karena investor mengalami kerugian harga jangka pendek, aksi jual berantai yang sebenarnya tidak sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi.
“Dalam situasi seperti itu, kehadiran pemerintah sebagai pembeli bisa membantu menghentikan kepanikan dan mengembalikan likuiditas pasar,” kata Yusuf saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.
Instrumen ini juga dinilai efektif ketika pasar mengalami kekeringan pembeli akibat sikap wait and see. Selain itu, BSF penting untuk mencegah risiko rambatan ke sistem keuangan yang lebih luas, mengingat kepemilikan SBN yang besar oleh bank, asuransi, dan dana pensiun.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Tetapi saya juga harus jujur, efektivitas BSF menjadi jauh lebih terbatas kalau sumber tekanannya berasal dari fundamental,” imbuh Yusuf.
Ia mencontohkan, jika pasar mulai khawatir terhadap arah fiskal, beban bunga utang, atau konsistensi kebijakan ekonomi, maka pembelian obligasi di pasar sekunder tidak serta-merta menghilangkan kekhawatiran investor.
Menurutnya, sebagian tekanan saat ini mengarah ke arah tersebut, dengan pasar mencermati pelebaran defisit, pelemahan primary balance, serta meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah. Dengan kata lain, kekhawatiran pasar tidak lagi sekadar volatilitas jangka pendek, melainkan arah kebijakan ke depan.
“Belum lagi faktor global. Selama suku bunga AS masih tinggi, yield US Treasury tetap menarik, dan dolar masih kuat, emerging market memang akan menghadapi tekanan. Dalam kondisi seperti itu, kemampuan BSF juga terbatas karena ia tidak bisa melawan gravitasi pasar global,” katanya.
Secara umum, Yusuf memandang BSF sebagai instrumen yang dapat disiapkan sebagai “payung” stabilisasi sebelum risiko membesar.
Menurutnya, akan lebih baik apabila instrumen tersebut sudah tersedia dan siap digunakan meski tidak selalu diaktifkan, dibandingkan baru disiapkan saat pasar telah memasuki fase kepanikan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!