Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Perang Masa Depan Sudah di Depan Mata, Chappy Hakim: Drone dan AI Jadi Senjata Utama

📅 Sabtu, 09 Mei 2026, 08:07 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Perang Masa Depan Sudah di Depan Mata, Chappy Hakim: Drone dan AI Jadi Senjata Utama Doc: istimewa
Ket. Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim dalam acara peluncuran dan diskusi bukunya bertajuk National Air Power: Belajar dari Perang Iran–Amerika di President Lounge, Menara Batavia, Jakarta, Kamis (7/5)

JAKARTA – President Club bersama Pusat Studi Air Power Indonesia (PSAPI) dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia menggelar peluncuran dan diskusi buku National Air Power: Belajar dari Perang Iran–Amerika karya Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim, Kamis (7/5), di President Lounge, Menara Batavia, Jakarta. 

Peluncuran ini menambah referensi strategis bagi dunia kedirgantaraan dan pertahanan Indonesia. Chappy Hakim, Kepala Staf TNI AU 2002–2005 dan Ketua Umum PSAPI, dikenal sebagai penulis produktif dengan lebih dari 50 buku di bidang kedirgantaraan, pertahanan, dan keamanan.

Kekuatan Udara sebagai Instrumen Strategis Negara

Dalam buku terbitan Yayasan Pustaka Obor Indonesia itu, Chappy menegaskan kekuatan udara kini bukan sekadar kemampuan militer, melainkan bagian strategi negara menjaga kedaulatan di tengah dinamika geopolitik.

“Misi buku ini untuk menyadarkan kita betapa pentingnya wilayah udara kedaulatan NKRI. Mari kita kelola dengan baik. Kita buat long term strategic planning untuk membangun sistem pertahanan nasional yang di bawahnya ada Sistem Pertahanan Udara Nasional. Pelajaran dari konflik Timur Tengah, musuh sangat mudah menyerang negara lewat udara. Itu yang sangat prinsip,” kata Chappy usai acara.

Buku tersebut mengupas national air power secara komprehensif. Chappy menekankan kekuatan udara kini menjadi instrumen utama menjaga kedaulatan, keamanan, dan kepentingan nasional. Ia mengulas teori kekuatan udara sejak awal abad ke-20 hingga era modern, serta hubungan timbal baliknya dengan kepentingan nasional lewat berbagai studi kasus.

Ketua Yayasan Pustaka Obor Indonesia Kartini Nurdin menyebut keunggulan buku ini terletak pada analisis tajam peristiwa bersejarah yang mengubah dunia. “Pak Chappy menggunakan sejumlah studi kasus penting untuk menunjukkan besarnya dampak kekuatan udara terhadap strategi pertahanan dan tatanan keamanan global,” ujarnya. 

Peristiwa yang dibahas antara lain: serangan Pearl Harbor sebagai efek kejut strategis; pemboman Hiroshima dan Nagasaki sebagai penentu akhir konflik besar; serta serangan 11 September 2001 sebagai pengingat kerentanan ruang udara. Buku ini juga secara khusus mengambil pelajaran dari dinamika Perang Iran-Amerika Serikat, menguji kekuatan udara dalam konflik kontemporer yang melibatkan teknologi, diplomasi, dan taktik militer kompleks.

Bangun Kekuatan Udara untuk Perdamaian  

Peluncuran menghadirkan Prof. Ir. Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pertahanan 2009–2014, sebagai keynote speaker. Purnomo menekankan pentingnya mengedepankan diplomasi ketimbang hard power. Sebagai negara berkembang, Indonesia perlu mengutamakan soft power sehingga penggunaan militer jadi pilihan terakhir. 

Saat menjabat, Purnomo selalu berkoordinasi erat dengan Kementerian Luar Negeri dalam merumuskan kebijakan pertahanan. Meski begitu, ia menilai kemandirian pertahanan udara nasional tetap penting dibangun. “Membangun kekuatan TNI bukan untuk berperang, melainkan menjaga perdamaian,” kata Purnomo. Ia menyebut tantangan terbesar saat itu adalah keterbatasan anggaran pasca krisis 2008.

Konflik Iran–Amerika Ubah Wajah Perang Modern

Sesi diskusi menghadirkan Dr. Nasir Tamara, pakar politik Timur Tengah dan penulis buku Revolusi Iran, dengan moderator Tascha Liudmila, News Anchor Nusantara TV. Nasir memaparkan perang modern Iran-Amerika tidak selalu langsung, tapi lewat operasi intelijen, kelompok sekutu, drone, serangan siber, dan pihak ketiga.

Chappy menambahkan pentingnya membangun industri pertahanan nasional yang mandiri, khususnya teknologi udara, drone, dan sistem pertahanan strategis. “Indonesia perlu belajar dari Iran yang tetap bisa membangun teknologi pertahanan meski bertahun-tahun kena embargo,” ujarnya. Menurut Chappy, konflik Iran-Amerika menciptakan sejarah baru taktik perang udara. “Kedua negara menunjukkan dominasi kekuatan udara yang kini berkembang ke arah perang siber, dari AI hingga drone. Saat ini, perang bukan lagi sekadar kekuatan senjata, melainkan sistem melawan sistem,” katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Panglima TNI Imbau Masyarakat Tidak Mudah Terprovokasi Informasi yang Belum Terverifikasi.
    Preview komentar:
    pakk,, tolong dijaga keamananya ya,, kami rakyat kecil ...
    Netizen cerdas tidak akan mudah terpengaruh isu pemecah ...
  • Dibayangi Eskalasi Geopolitik, 10 Agustus 2026
    Preview komentar:
    Fluktuasi nilai tukar Rupiah yang rentan terhadap kebijakan ...
  • Logistik Hijau Dinilai Kunci Menangkan Persaingan Industri
    Preview komentar:
    Inisiatif mulia dari Kementerian Kehutanan terkait optimalisasi rute ...
Advertisement
injourney
Advertisement
asd
Advertisement
gaia musik festival
Ekonomi
PT KAI: Angkutan Batu Bara ...
Ekonomi
Rupiah Hari Ini Kembali Ter...
Otomotif
Supercar Lamborghini Temera...
Luar Negeri
Suriah Akhirnya Jatuhkan Hu...
Luar Negeri
Polandia Pulangkan Paksa 18...
Advertisement
gaia musik festival
Sidang Perdana Korupsi Kuota Haji, Yaqut Cholil: Yang Benar akan Kelihatan

Sidang Perdana Korupsi Kuota Haji, Yaqut Cholil: Yang Benar akan Kelihatan

11 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.