Yogyakarta Art Book Fair 2026: Ruang Kolaborasi Penerbit Independen Global
📅 Jumat, 08 Mei 2026, 21:55 WIB | Oleh: Paundra ZakirullohJAKARTA - Yogyakarta Art Book Fair 2026 resmi dibuka pada Jumat (8/5/2026) di Langgeng Art Space dan akan berlangsung hingga 10 Mei 2026. Perhelatan tahunan ini kembali menjadi ruang pertemuan bagi seniman, penerbit independen, desainer, hingga pelaku kreatif dari Indonesia maupun mancanegara dalam ekosistem penerbitan artistik yang kolaboratif.
Sejak hari pertama penyelenggaraan, acara tersebut langsung dipadati pengunjung yang antusias menjelajahi berbagai booth exhibitor. Pengunjung juga mengikuti rangkaian program publik yang telah dikurasi, mulai dari diskusi, workshop, hingga peluncuran buku yang menghadirkan suasana interaktif di lokasi acara.
YKABF 2026 menghadirkan puluhan exhibitor terkurasi yang membuka ruang interaksi langsung antara publik dengan para pembuat karya. Melalui ajang ini, pengunjung dapat melihat lebih dekat bagaimana praktik penerbitan mandiri berkembang sebagai bagian dari produksi pengetahuan dan eksplorasi kreatif kontemporer.
Pada hari pertama, sejumlah agenda menjadi sorotan seperti Special Showcase: Junk Hunting bersama Ika Vantiani dan Palka Kreatif yang membahas praktik pengarsipan serta eksplorasi material dalam penerbitan independen. Selain itu, terdapat workshop Lingo Gado-Gado, diskusi buku "Mentaok: Kolonialisme, Kapitalisme, dan Perubahan", hingga peluncuran buku The Butterfly Encounter.
Hari pembukaan kemudian ditutup dengan sesi diskusi Accommodating Design Accommodatively serta Special Showcase: Journal Date. Dua agenda tersebut menghadirkan ruang percakapan yang lebih intim antara pembicara dan pengunjung mengenai proses kreatif di balik penerbitan artistik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Perwakilan YKABF, Syafiatudina, mengatakan ajang tersebut dirancang bukan hanya sebagai tempat bertemunya pelaku industri kreatif. Menurutnya, YKABF juga menjadi ruang hidup untuk bertukar gagasan dan membangun kolaborasi lintas disiplin.
"YKABF kami bayangkan sebagai ruang yang hidup, bukan hanya tempat bertemu, tetapi tempat bertukar dan berkembang bersama. Melihat antusiasme di hari pertama ini, kami merasa energi kolektif itu benar-benar terasa," ujar Syafiatudina.
Sementara itu, Ika Vantiani menilai praktik penerbitan mandiri tetap relevan di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurutnya, medium cetak masih menawarkan pengalaman personal yang tidak sepenuhnya dapat digantikan teknologi digital.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Dalam konteks ini, praktik berbasis cetak menjadi semakin penting hari ini, terlebih di tengah perkembangan AI, karena ia tetap menyimpan pengalaman yang personal, material, dan manusiawi yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh teknologi digital," kata Ika.
Memasuki hari kedua dan ketiga, pengunjung akan disuguhkan berbagai program lanjutan seperti sesi bersama Pixie Tan dari Singapura, Shaqina Alfisyah, hingga Anak Singa Studio. Program tersebut akan membahas praktik publikasi kolaboratif hingga pengembangan ide kreatif di industri independen.
Memasuki tahun ketiganya, YKABF terus menunjukkan pertumbuhan konsisten setelah sebelumnya menjangkau lebih dari 2.000 pengunjung dalam dua edisi terdahulu. Penyelenggara berharap acara ini dapat memperkuat posisi Yogyakarta sebagai salah satu pusat ekosistem kreatif dan penerbitan alternatif di Indonesia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!