Usia Muda Tak Luput dari Serangan Jantung, Ini Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai
📅 Senin, 28 Sep 2026, 17:55 WIB | Oleh: Haryo BronoJAKARTA — Serangan jantung koroner kini tidak lagi menjadi masalah kesehatan yang identik menyerang kelompok usia lanjut saja. Perubahan gaya hidup modern, minimnya aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, kebiasaan merokok, hingga tingkat stres yang tinggi membuat risiko penyakit kardiovaskular ini kian mengancam kelompok usia produktif.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Kardiologi Intervensi RS Pondok Indah – Pondok Indah, dr. Nanda Iryuza, Sp.J.P., Subsp.K.I.(K)., menegaskan bahwa peningkatan kesadaran terhadap faktor risiko dan deteksi dini menjadi kunci utama dalam mencegah terjadinya serangan jantung.
Menurut dr. Nanda, serangan jantung koroner terjadi ketika aliran darah menuju otot jantung mengalami hambatan drastis. Salah satu pemicu utamanya adalah pecahnya plak aterosklerosis pada pembuluh darah koroner, yang kemudian memicu pembentukan bekuan darah (trombus) dan menghalangi pasokan oksigen serta nutrisi penting ke jantung.
Faktor risiko penyakit jantung koroner secara garis besar terbagi menjadi dua kelompok, yaitu faktor yang tidak dapat diubah (seperti usia, jenis kelamin, dan riwayat genetik) serta faktor yang masih dapat dikendalikan.
“Sementara itu, sejumlah faktor yang dapat dikendalikan antara lain kebiasaan merokok, tekanan darah tinggi, diabetes, obesitas, dan stres,” ungkap dr. Nanda.
Pada usia muda, risiko tersebut dapat berlipat ganda apabila faktor-faktor di atas beririsan langsung dengan gaya hidup sedentari (kurang gerak) dan pola makan buruk. Konsumsi makanan tinggi lemak jenuh, kolesterol jahat, dan gula berlebih, yang dibarengi dengan minimnya aktivitas fisik, terbukti sangat mempercepat kerusakan kesehatan jantung.
Gejala yang Sering Disalahartikan sebagai Kelelahan Biasa
dr. Nanda menjelaskan bahwa gejala khas serangan jantung biasanya diawali dengan keluhan nyeri dada yang muncul secara mendadak. Sensasi nyeri tersebut sering kali digambarkan seperti dada yang ditekan atau tertindih benda berat, dan dapat menjalar ke lengan, ulu hati, leher, rahang, bahu, hingga punggung.
Serangan nyeri ini umumnya berlangsung lebih dari 20 menit dan kerap disertai gejala penyerta seperti sesak napas, keluarnya keringat dingin, rasa mual, hingga muntah.
Pada kelompok usia muda, gejala gangguan jantung ini sering kali diabaikan karena keluhan tersebut keliru dianggap sebagai sekadar kelelahan fisik setelah beraktivitas seharian. Padahal, pengenalan gejala secara cepat sangat menentukan kecepatan pasien untuk mendapatkan penanganan medis darurat.
Evaluasi klinis awal untuk mendeteksi kondisi pasien biasanya meliputi pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) serta tes enzim jantung. Kecepatan tindakan medis sangat krusial untuk menyelamatkan otot jantung dan meminimalisasi risiko komplikasi fatal.
Langkah Tanggap Darurat: Segera Bawa ke Rumah Sakit
Apabila seseorang menunjukkan gejala yang mengarah pada serangan jantung, dr. Nanda mengimbau agar pasien segera dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis profesional.
Pada situasi tertentu, obat golongan nitrat yang sebelumnya telah diresepkan khusus oleh dokter dapat digunakan sesuai petunjuk medis. Sementara itu, jika pasien mendadak mengalami henti jantung (cardiac arrest), kemampuan melakukan tindakan Bantuan Hidup Dasar atau Basic Life Support (BLS) sangat menentukan penyelamatan nyawa sambil menunggu tim medis tiba.
Tindakan BLS mencakup prosedur resusitasi jantung paru (RJP) pada kondisi henti jantung, yang idealnya dilakukan oleh individu yang memiliki kompetensi atau pelatihan terkait.
Metode Penanganan Medis yang Disesuaikan dengan Kondisi Pasien
Prosedur penanganan penyakit jantung koroner dilakukan secara personal, bergantung pada tingkat keparahan dan lokasi penyumbatan pembuluh darah pasien. Terapi medis dapat berupa pemberian obat-obatan rutin, tindakan intervensi non-bedah seperti pemasangan stent atau ring jantung, pemanfaatan balon khusus drug coated balloon (DCB) pada kasus tertentu, hingga operasi bedah pintas arteri koroner (bypass jantung).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!