IHSG Hari Ini Ditutup Melemah, Aksi Jual Hantam Saham Tambang
📅 Jumat, 08 Mei 2026, 18:40 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Pelemahan saham-saham tambang menjadi faktor utama yang menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga ditutup di zona merah.
Koreksi harga komoditas global, terutama batu bara dan logam, memicu aksi jual investor terhadap emiten berbasis sumber daya alam yang sebelumnya menjadi penopang penguatan indeks.
Sentimen eksternal seperti penguatan dolar AS, kekhawatiran perlambatan ekonomi global, serta meningkatnya tensi geopolitik turut memperbesar tekanan di pasar saham domestik.
Kondisi ini menunjukkan tingginya ketergantungan pergerakan IHSG terhadap sektor komoditas, sehingga setiap perubahan harga global langsung tercermin pada volatilitas pasar keuangan nasional.
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI), pada perdagangan Jumat (8/5), ditutup melemah 204,9 poin atau 2,86 persen ke level 6.969,40.
Sebaiknya Anda baca juga:
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan koreksi IHSG sejalan dengan pelemahan mayoritas bursa global di tengah sentimen eksternal dan tekanan pada saham-saham berbasis tambang.
“Ini sejalan dengan mayoritas bursa global dan regional Asia yang terkoreksi, di mana hal ini disebabkan oleh perundingan AS dan Iran yang belum menemukan jalan tengahnya, dan kalau dilihat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga kembali melemah,” ujarnya di Jakarta.
Herditya menerangkan, secara teknikal IHSG memang masih memiliki potensi melanjutkan pelemahan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain faktor global, tekanan terbesar juga datang dari emiten berbasis metal mining setelah munculnya usulan kenaikan royalti mineral dan batu bara (minerba) oleh pemerintah guna meningkatkan penerimaan negara.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan skema royalti progresif baru untuk sejumlah komoditas mineral utama.
“Skema ini mencakup kenaikan batas atas royalti serta penyesuaian rentang harga guna mengoptimalkan penerimaan negara saat harga komoditas naik,” kata Herditya.
Dalam usulan tersebut, royalti konsentrat tembaga direvisi dari sebelumnya flat 7-10 persen menjadi 9-13 persen, sedangkan royalti katoda tembaga naik dari 4-7 persen menjadi 7-10 persen.
Royalti emas juga diusulkan meningkat dari 7-16 persen menjadi 14-20 persen, disertai tambahan rentang harga baru hingga di atas 5.000 dolar AS per ons.
Sementara itu, royalti perak berubah dari flat 5 persen menjadi progresif 5-8 persen, sedangkan royalti timah naik dari 3-10 persen menjadi progresif 5-20 persen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!