Berburu Yuan di Negeri Panda: Panda Bond Jadi Andalan, Menkeu Siapkan Jurus Baru Tambal Fiskal
📅 Rabu, 06 Mei 2026, 18:50 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Rencana pemerintah menerbitkan Panda Bond terdengar seperti langkah “naik kelas” dalam pembiayaan, tapi juga menyimpan ironi tersendiri.
Di satu sisi, ini menunjukkan upaya diversifikasi sumber utang dan memperluas akses ke pasar keuangan Tiongkok.
Namun di sisi lain, muncul pertanyaan klasik: apakah ini strategi cerdas memanfaatkan peluang global, atau sekadar menambah daftar panjang ketergantungan pada utang luar negeri?
Dalam logika pasar, Panda Bond bisa menjadi alternatif pembiayaan yang lebih fleksibel, apalagi jika menawarkan biaya yang kompetitif.
Namun, langkah ini bisa dibaca sebagai “cari napas baru” ketika ruang fiskal makin sempit. Alih-alih memperkuat basis penerimaan domestik, pemerintah justru kembali berkeliling pasar global—kali ini dengan rasa “yuan”.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan rencana penerbitan surat utang global berdenominasi Yuan atau Panda Bond dapat terealisasi pada Juni 2026.
Dia mengaku telah menerima laporan dari Direktur Jenderal Pengelolaan dan Pembiayaan Risiko Kementerian Keuangan Suminto untuk segera bertolak ke China.
“Mungkin bulan depan (penerbitan Panda Bond), tetapi Pak Suminto sudah mengajak saya ke China,” kata Purbaya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (6/5).
Sebaiknya Anda baca juga:
Menkeu menjelaskan penerbitan Panda Bond merupakan strategi diversifikasi pembiayaan agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) lebih kokoh karena tidak bergantung pada satu sumber tertentu.
Sebagai catatan, realisasi pembiayaan anggaran tercatat sebesar Rp257,4 triliun per 31 Maret 2026. Nilai tersebut terdiri atas pembiayaan utang sebesar Rp258,7 triliun dan pembiayaan non utang Rp1,3 triliun.
“Kita tetap diversifikasi supaya nggak tergantung ke pembiayaan Amerika Serikat atau negara-negara barat,” tambahnya.
Dia melanjutkan, China memiliki likuiditas yang memadai serta pasar keuangan berkapasitas besar sehingga diyakini mampu menyerap instrumen utang pemerintah Indonesia.
Selain itu, pasar keuangan China juga menawarkan imbal hasil (yield) kompetitif dengan rentang 2,3 persen hingga 2,5 persen.
Faktor potensial lainnya, menurut Purbaya, yaitu pasar China menaruh kepercayaan yang cukup kuat terhadap fundamental ekonomi Indonesia, sehingga penilaiannya tak rentan terpengaruh oleh peringkat kredit.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!