Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Anggaran Harus Difokuskan ke Sektor-sektor Pengungkit Perekonomian

📅 Senin, 04 Mei 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Anggaran Harus Difokuskan ke Sektor-sektor Pengungkit Perekonomian Doc: antara
Ket. Efektivitas Pengeluaran - Fondasi Ekonomi Domestik Hadapi Tekanan Faktor Eksternal dan Internal

JAKARTA - Prospek perekonomian nasional dalam jangka menengah dinilai perlu dikelola dengan penuh kehati-hatian, meskipun pada kuartal I-2026 diperkirakan akan tumbuh 5,48 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) dalam laporan Indonesia Economic Outlook Q2-2026 di Jakarta pekan lalu memperkirakan perekonomian nasional akan tumbuh 5,15 persen (yoy) dengan kisaran estimasi 5,1 persen hingga 5,2 persen pada sepanjang tahun 2026.

Peneliti LPEM UI, Jahen F. Rezki dalam keterangannya di Jakarta, akhir pekan lalu mengatakan kinerja perekonomian nasional masih akan dipengaruhi oleh tekanan konflik Timur Tengah.

Sebab itu, Pemerintah diminta merealokasi belanja ke pos yang lebih produktif dan bisa mendorong iklim usaha dan investasi, sektor keuangan untuk mempertahankan ekspansi kredit tanpa memberikan tekanan terhadap kualitas aset, serta menjaga daya beli masyarakat secara berkelanjutan di tengah tekanan harga energi.

“Tanpa perbaikan yang berarti pada aspek-aspek tersebut, pertumbuhan berisiko untuk tetap bertahan di batas bawah kisaran 5 persen,” kata Jahen.

Dalam kesempatan itu, LPEM juga memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,48 persen (year-on-year/yoy) pada kuartal I-2026. “Pertumbuhan PDB pada triwulan pertama 2026 diproyeksikan sebesar 5,48 persen (yoy) dengan rentang estimasi 5,46 persen hingga 5,5 persen,” katanya.

Tekanan harga meningkat secara signifikan pada kuartal pertama 2026 yang tercermin pada inflasi umum melampaui kisaran target Bank Indonesia (BI), dengan level terakhir 3,47 persen (yoy) pada Maret. Lonjakan itu utamanya didorong oleh efek basis rendah (low-base effect) subsidi tarif listrik.

Sedangkan aktivitas investasi pada kuartal I-2026 mencapai 498,7 triliun rupiah atau setara 24,4 persen dari target tahunan dan tumbuh 7,2 persen (yoy). Neraca perdagangan juga tetap melanjutkan tren surplus selama 70 bulan pada Februari 2026. Faktor pendorong lainnya pada kuartal I-2026 yaitu faktor musiman Ramadhan dan Idul Fitri. LPEM UI menyatakan faktor musiman itu menguntungkan Indonesia di tengah berlanjutnya tekanan eksternal dan internal.

Begitu pula dengan pencairan tunjangan hari raya (THR) juga diperkirakan mendorong pendapatan bersih masyarakat. Kombinasi berbagai faktor tersebut serta efek basis rendah dari pertumbuhan PDB di kuartal I-2025 membuat pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 diperkirakan akan tumbuh cukup tinggi.

Diminta pada kesempatan lain, Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko, menilai ekspektasi pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 5 persen masih realistis. Namun, ia mengingatkan ada tren yang perlu diwaspadai agar target tersebut tercapai.

Meski Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih berada di level optimis di atas 100, angkanya mulai melemah tipis. IKK tercatat di level 122,9, turun dari 125,2 pada Februari. “Apabila tren pelemahan ini berlanjut, akan mengganggu pencapaian pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen,” kata Suhartoko.

Dari sisi produsen, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Kementerian Perindustrian juga menunjukkan perlambatan. Pada Februari 2026, IKI berada di level 54,02. Angka ini masih di zona ekspansi atau di atas 50, meski melambat 0,10 poin dibanding Januari.

Tren serupa terjadi pada Maret 2026. IKI sebagai indikator utama keyakinan produsen turun ke 51,86 poin. Meski masih di zona ekspansi, angka tersebut menunjukkan sektor manufaktur tumbuh lebih lambat dari bulan sebelumnya. “Oleh karena itu perlu ada upaya untuk meningkatkan ekspansi sektor industri,” tegas Suhartoko.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan, ia mendorong pemerintah melakukan koreksi belanja. Pengeluaran yang kurang produktif dan bermasalah sebaiknya dialihkan ke sektor yang mampu mendorong konsumsi, investasi, dan ekspor.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Penataan Ruang Publik Menyambut HUT DKI Jakarta

5 menit yang lalu | Fajar Alim M

Megapolitan
Penataan Ruang Publik Menya...
Daerah
Peringatan Hari Keamanan Pa...
Ekonomi
Program SPHP Kedelai Dukung...
Nasional
Pemerintah Perkuat SDM Mela...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.