Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Anggaran Harus Difokuskan ke Sektor-sektor Pengungkit Perekonomian

📅 Senin, 04 Mei 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi

“Fokus anggaran harus ke sektor-sektor pengungkit. Konsumsi rumah tangga, investasi swasta, dan ekspor perlu dijaga supaya mesin pertumbuhan tetap jalan,” kata Suhartoko.

Selektif dan Terukur

Sementara itu, Direktur Masyarakat Ekonomi Politik Indonesia (MEPI), Iyuk Wahyudi, menilai proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,15 persen pada 2026 yang disampaikan oleh LPEM UI mencerminkan kondisi yang realistis, namun tetap menyimpan sejumlah kerentanan struktural. Menurutnya, angka tersebut berada dalam koridor moderat, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong lompatan ekonomi yang signifikan.

Dia mengatakan bahwa kehati-hatian dalam prospek jangka menengah perlu dibaca sebagai sinyal bahwa fondasi ekonomi domestik masih menghadapi tekanan, baik dari faktor eksternal maupun internal. “Konflik geopolitik, termasuk di Timur Tengah, memang memberi dampak nyata terhadap stabilitas harga energi dan rantai pasok global, yang pada akhirnya mempengaruhi kinerja ekonomi nasional,” kata Iyuk saat dihubungi, Minggu (3/5).

Iyuk menilai rekomendasi realokasi belanja pemerintah ke sektor produktif merupakan langkah yang tepat, namun implementasinya harus disertai dengan keberanian melakukan reformasi prioritas anggaran. Ia menekankan bahwa belanja negara tidak hanya perlu diarahkan untuk menjaga konsumsi, tetapi juga harus mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi investasi dan penciptaan lapangan kerja.

Di sektor keuangan, ia mengingatkan agar ekspansi kredit tetap dijaga secara selektif dan terukur. Menurutnya, dorongan pertumbuhan kredit tanpa pengelolaan risiko yang memadai justru dapat meningkatkan potensi tekanan terhadap kualitas aset perbankan.

Dia juga menekankan pentingnya menjaga daya beli masyarakat sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi. Ia menilai tekanan harga energi berpotensi menggerus konsumsi rumah tangga jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat. “Jika tidak ada perbaikan signifikan pada aspek belanja produktif, stabilitas keuangan, dan daya beli, maka risiko pertumbuhan tertahan di kisaran bawah 5 persen menjadi sangat terbuka,” pungkas Iyuk.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Olahraga
Crysencio Summerville
Megapolitan
BMKG Prakirakan Jakarta Ber...

Gelombang Panas Eropa: Menara Eiffel Ditutup Sementara

44 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Gelombang Panas Eropa: Mena...
Luar Negeri
Aksi Jual Saham AI AS Mengg...
Megapolitan
Penataan Ruang Publik Menya...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.