Pengamat: Peringatan World Press Freedom 2026, Momentum Adaptasi Berkelanjutan bagi Jurnalis
📅 Minggu, 03 Mei 2026, 00:01 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SKelima, pemanfaatan teknologi digital. Penggunaan komunikasi terenkripsi dan penyimpanan data yang aman menjadi bagian penting dalam melindungi sumber dan informasi.
"Semua ini menunjukkan bahwa jurnalisme di bawah tekanan tidak mati. Ia bertransformasi. Ia menjadi lebih adaptif, lebih strategis, dan sangat kontekstual," ungkapnya.
Dari sini, kita perlu mengubah cara pandang terhadap kebebasan pers. Kebebasan tidak cukup dimaknai sebagai bebas dari negara, tetapi juga sebagai kemampuan untuk mengelola berbagai tekanan yang ada dari non negara. Dalam banyak kasus di Indonesia, ancaman terhadap pers justru datang dari norma sosial, relasi kekuasaan, dan ketergantungan ekonomi.
Karena itu, upaya memperkuat kebebasan pers tidak bisa hanya bertumpu pada revisi regulasi. Dibutuhkan pendekatan yang lebih luas, termasuk penguatan ekonomi media lokal dan peningkatan kapasitas jurnalis dalam memahami konteks sosial-budaya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada akhirnya, pengalaman jurnalis di Madura memberi pelajaran penting bahwa kebebasan pers bukanlah kondisi yang statis. Ia adalah proses yang terus diperjuangkan, dinegosiasikan, dan dipertahankan. "Di tengah berbagai keterbatasan, jurnalisme tetap hidup. Bukan dengan cara melawan secara frontal, tetapi dengan kecerdikan dalam membaca situasi."
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!