Dua Warga Sulsel Disandera Perompak Somalia, Pemprov Bergerak Cepat Dampingi Keluarga
📅 Rabu, 29 Apr 2026, 05:35 WIB | Oleh: Tim PenulisGowa - Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan merespons cepat kabar dua warga daerah tersebut yang menjadi korban penyanderaan awak Kapal Tanker Honour 25 oleh perompak Somalia di perairan internasional sejak 21 April 2026.
“Kami telah menghubungkan keluarga korban dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) dan Kementerian Luar Negeri. Kami terus memantau perkembangannya,” kata Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman di Makassar, Selasa (28/4).
Dua awak kapal tersebut yakni Ashari Samadikun, kapten kapal asal Kabupaten Gowa, serta Faizal yang menjabat sebagai mualim III asal Kabupaten Bulukumba.
Gubernur juga menugaskan Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Sulsel Jayadi Nas untuk mendatangi keluarga korban di Dusun Moncongloe, Desa Paccellekang, Kecamatan Pattalassang, Kabupaten Gowa sebagai bentuk pendampingan dan koordinasi.
Jayadi mengatakan kunjungan tersebut bertujuan memastikan dukungan kepada keluarga korban serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat dalam upaya penyelamatan.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kami telah mengunjungi keluarga korban dan menghubungkan mereka dengan pihak kementerian, termasuk Wakil Menteri P2MI, untuk mendapatkan informasi terkini,” ujarnya.
Ia menambahkan, berdasarkan komunikasi terakhir, kondisi para korban dilaporkan dalam keadaan selamat, meskipun situasi di lokasi penyanderaan masih belum menentu.
Pemerintah pusat, lanjut dia, terus mengupayakan pembebasan para korban melalui jalur diplomasi dengan melibatkan otoritas terkait di kawasan perairan tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kami memastikan pemerintah hadir dan terus berkoordinasi dengan pihak terkait agar para korban dapat segera dibebaskan dengan selamat,” katanya.
Kedatangan tim dari Pemprov Sulsel disambut keluarga korban yang menyampaikan apresiasi atas perhatian dan pendampingan yang diberikan pemerintah.
Sementara itu, istri kapten kapal, Santi Sanaya, mengaku sempat berkomunikasi dengan suaminya sebelum kondisi semakin memburuk.
Ia menyebutkan, suaminya menyampaikan adanya upaya negosiasi antara awak kapal dan perompak, namun komunikasi terkendala bahasa.
“Suami saya sempat meminta agar tidak dihubungi lagi karena khawatir teleponnya digunakan oleh perompak,” ujarnya.
Menurut dia, para awak kapal dalam kondisi sehat dan masih mendapatkan makanan serta kesempatan beribadah, meskipun berada dalam tekanan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!