Tak Disangka! Di Tangan Pelaku UMKM Minahasa Selatan, Sabut Kelapa Tembus Pasar Tiongkok
📅 Selasa, 28 Apr 2026, 23:05 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Sabut kelapa selama ini hanya dianggapsebagai limbah. Namun, di tangah warga yang kreatif, sabut kelapa yang dulunya di pandang sebelah mata, kini bisa diolah menjadi bahan baku atau setengah jadi sehingga dapat menghasilkan cuan.
Tak hanya cuan saja, sabut kelapa kinia bahkan bisa menjadi salah satu komoditas ekspor di Indonesia. Hal itu tentunya turut mendukung penerimaan cadangan devisa negara yang selama ini banyak bertumpu pada penarikan utang baru.
Karenanya, produk olahan sabut kelapa asal Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, menembus pasar internasional lewat ekspor perdana ke Guangzhou, Tiongkok.
Ekspor yang dilakukan pada Selasa itu mengirimkan dua kontainer berisi coco fiber, husk chip, dan peat blok yang diolah melalui Rumah Produksi Bersama (RPB) Minahasa Selatan, dengan nilai transaksi mencapai Rp98,68 juta.
Asisten Deputi Produksi dan Digitalisasi Usaha Kecil Kementerian UMKM Ali dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (28/4), mengatakan capaian tersebut menjadi bukti transformasi pengelolaan sumber daya lokal menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Prestasi ini menjadi momentum penting dalam memperkuat hilirisasi sekaligus meningkatkan daya saing komoditas unggulan daerah di pasar internasional,” ujar Ali.
Minahasa Selatan merupakan salah satu sentra produksi kelapa terbesar di Sulawesi Utara dengan luas perkebunan mencapai 46.451 hektare.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi kelapa daerah ini mencapai 43.980 ton pada 2025 atau sekitar 16,4 persen dari total produksi provinsi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ali menjelaskan sebelumnya petani umumnya hanya memanfaatkan bagian buah, tempurung, dan air kelapa.
Namun, Ali menyampaikan melalui penguatan ekosistem usaha dan pendampingan dari Kementerian UMKM, sabut kelapa yang sebelumnya kurang dimanfaatkan kini diolah menjadi produk bernilai ekonomi dan berorientasi ekspor.
Potensi ekonominya pun disebut cukup besar. Berdasarkan catatan Kementerian UMKM, dari setiap 100 kilogram kelapa, dapat dihasilkan sekitar 25 kilogram sabut yang kemudian diolah menjadi 7,5 kilogram coco fiber dan 16 kilogram coco peat.
Di pasar domestik, coco fiber dapat dijual hingga Rp40.000 per kilogram, sementara coco peat sekitar Rp13.000 per kilogram.
Produk coco fiber memiliki beragam pemanfaatan, mulai dari perlengkapan rumah tangga, komponen industri dan otomotif, hingga media tanam dan material pelestarian lingkungan seperti geotekstil penahan erosi.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, pemerintah membangun Rumah Produksi Bersama (RPB) olahan kelapa di Minahasa Selatan pada 23 September 2022. Fasilitas ini memungkinkan proses produksi dilakukan secara terintegrasi sehingga meningkatkan nilai tambah bagi petani dan pelaku UMKM.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!