Mewaspadai Potensi Karhutla Lereng Gunung Lawu di Musim Kemarau
📅 Senin, 27 Apr 2026, 22:50 WIB | Oleh: Tim PenulisMagetan - Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan Lawu dan Sekitarnya (KPH Lawu Ds) meminta warga untuk mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang rawan terjadi di lereng Gunung Lawu saat musim kemarau.
Asisten Perhutani (Asper) Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Lawu Selatan KPH Lawu Ds Mulyadi di Magetan, Senin, mengatakan pihaknya telah mengingatkan masyarakat tepian hutan yang beraktivitas di wilayah Gunung Lawu agar tidak bersinggungan dengan api, karena berpotensi memicu karhutla.
"Bulan Mei sesuai prakiraan BMKG sudah masuk musim kemarau. Kami meminta masyarakat sekitar hutan maupun pendaki untuk tidak melakukan aktivitas yang menggunakan api, karena rawan memicu karhutla," ujarnya.
Menurutnya, di sejumlah wilayah Gunung Lawu rawan terjadi kebakaran saat musim kemarau karena kondisinya yang sangat kering.
Untuk itu pihaknya telah melakukan upaya mitigasi, baik secara eksternal maupun internal guna mencegah terjadinya kebakaran hutan di wilayah lereng gunung tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di antaranya melakukan imbauan dan sosialisasi kepada kepala desa dan para pengurus Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) di wilayah BKPH Lawu Selatan untuk diteruskan ke warga di tepian hutan agar saat beraktivitas di dalam kawasan hutan tidak melakukan pembakaran atau membuat perapian sekecil apapun yang dapat menyebabkan kebakaran hutan.
Pihaknya juga membuat ilaran yang bertujuan sebagai langkah pemutus pergerakan api. Lalu juga membentuk Satgas Pencegahan Karhutla, yang terdiri dari pihak Perhutani KPH Lawu Ds, LMDH, dan relawan.
"Kami telah mengambil langkah-langkah seperti melakukan mitigasi, membuat ilaran, dan membentuk satgas pencegahan. Tujuannya, sebagai upaya awal dalam mengantisipasi terjadinya kebakaran di wilayah Gunung Lawu," kata Mulyadi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pihaknya memberikan contoh sejumlah aktivitas di hutan yang berpotensi menyebabkan kebakaran. Di antaranya adalah aktivitas warga yang mencari madu dengan api atau asap untuk mengusir tawon.
Lalu juga mengasap lubang persembunyian landak, serta saat membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar semak-semak.
Untuk jalur pendakian lewat Cemoro Sewu, Magetan, pihaknya juga telah memberikan pengumuman dan arahan agar tidak menyalakan api unggun. Kalau pun menyalakan, pendaki harus memastikan api sudah benar-benar padam.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!