Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Impor Tertekan, Diversifikasi Pemasok BBM Jadi Kebutuhan Mendesak

24 Senin, 27 Apr 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Impor Tertekan, Diversifikasi Pemasok BBM Jadi Kebutuhan Mendesak Impor Tertekan, Diversifikasi Pemasok BBM Jadi Kebutuhan Mendesak Doc: istimewa
Ket. Pasokan Energi - Energi Terbarukan Penting agar RI Tak Terus Bergantung pada Energi Fosil

Indonesia juga perlu memperkuat ketahanan energi melalui peningkatan produksi domestik, pembangunan kilang, serta penguatan infrastruktur penyimpanan dan distribusi.

JAKARTA – Ketergantungan pada satu atau dua pemasok bahan bakar minyak (BBM) menempatkan Indonesia pada posisi rentan terhadap gangguan pasokan dan volatilitas harga, terutama di tengah perubahan dinamika kilang regional. Menurunnya efisiensi kilang di Singapura serta pergeseran arus perdagangan energi global dapat memicu kenaikan biaya impor dan risiko keterlambatan suplai.

Dalam kondisi ini, konsentrasi sumber pasokan bukan hanya isu ekonomi, tetapi juga menyangkut ketahanan energi nasional. Karena itu, diversifikasi pemasok menjadi langkah mendesak untuk menyebar risiko sekaligus meningkatkan daya tawar dalam negosiasi harga.

Namun, strategi ini perlu berjalan paralel dengan upaya struktural seperti peningkatan kapasitas dan modernisasi kilang domestik, serta percepatan transisi menuju energi alternatif. Dengan mengurangi ketergantungan pada BBM dan memperluas portofolio energi, Indonesia dapat membangun sistem energi yang lebih tangguh, adaptif, dan berkelanjutan di tengah ketidakpastian global.

Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti menilai profitabilitas kilang minyak Singapura menurun akibat pergeseran pasokan minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat (AS) yang meningkatkan biaya produksi dan menurunkan efisiensi. Perubahan jenis minyak juga tidak sepenuhnya sesuai dengan desain kilang, sehingga menekan output BBM seperti diesel dan avtur serta menaikkan biaya logistik.

“Minyak mentah AS pun juga sebagian berasal dari Timur Tengah jadi biaya produksi kilang Singapura lebih mahal sehingga menggerus profitnya,” ujar Esther kepada Koran Jakarta, Minggu (26/4).

Di tengah kondisi ini, Indonesia berupaya mengurangi ketergantungan impor dari Singapura dengan diversifikasi pasokan langsung ke Timur Tengah dan AS guna meningkatkan efisiensi dan posisi tawar. Namun, strategi ini membutuhkan negosiasi yang tepat agar saling menguntungkan.

Dalam jangka panjang, Indonesia juga didorong memperkuat ketahanan energi melalui peningkatan produksi domestik, pembangunan kilang, serta penguatan infrastruktur penyimpanan dan distribusi. “Pertamina didorong untuk membangun kilang minyak sendiri serta memperbesar kapasitas tangki penyimpanan dan dermaga agar bisa menampung pasokan langsung dari AS maupun Timur Tengah menggunakan kapal berukuran besar,” jelasnya.

Pengembangan EBT

Dosen Magister Ekonomi Terapan Universitas Katolik Atma Jaya, YB. Suhartoko menekankan pentingnya pengembangan energi terbarukan agar Indonesia tidak terus bergantung pada energi fosil yang terbatas. Dia juga mengingatkan agar pasokan BBM tidak hanya bergantung pada satu atau dua negara, karena berisiko tinggi terhadap gejolak geopolitik dan fluktuasi harga global.

“Bagi saya, intinya jangan sampai hanya satu atau dua pemasok minyak ke Indonesia, supaya tidak menimbulkan ketergantungan terhadap negara lain,” ujar Suhartoko.

Menurutnya, sebagai komoditas vital, ketergantungan pada satu sumber dapat langsung berdampak pada stabilitas ekonomi nasional. Karena itu, diversifikasi pemasok serta penguatan produksi dalam negeri menjadi langkah kunci untuk menjaga ketahanan energi dan memastikan kestabilan ekonomi jangka panjang.

Sebelumnya, dikutip dari The Bussines Times, kilang minyak di Singapura dinilai semakin tidak efisien karena beralih ke minyak mentah alternatif dari AS dan Afrika Barat akibat gangguan pasokan Timur Tengah. Meski ongkos kirim minyak jenis West Texas Intermediate lebih murah, penggunaannya tidak sepenuhnya cocok menggantikan minyak Timur Tengah seperti Oman.

Direktur Riset perdagangan minyak global di S&P Global, Wang Zhuwei menilai ketidaksesuaian ini disebabkan desain kilang Singapura yang lebih optimal untuk mengolah minyak dengan karakteristik tertentu (tingkat keasaman sedang). Akibatnya, perubahan bahan baku menurunkan efisiensi operasional dan memperkecil margin keuntungan kilang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Homepage Mobile Atas
Advertisement
Homedec Homepage
Ekonomi
Sebanyak 60 UMKM Ramaikan F...
Nasional
Penyaluran Bantuan Air Bers...
Megapolitan
Lapak Baca Gratis Hadir unt...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
BMKG Prakirakan Mayoritas Cuaca Kota Besar Indonesia Berawan dan Hujan Ringan Sabtu Ini

BMKG Prakirakan Mayoritas Cuaca Kota Besar Indonesia Berawan dan Hujan Ringan Sabtu Ini

24 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.