Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Unsur Tanah Jarang Terbentuk di Zona Subduksi Purba

📅 Kamis, 23 Apr 2026, 07:10 WIB | Oleh:
Unsur Tanah Jarang Terbentuk di Zona Subduksi Purba Doc: Foto: Layanan Taman Nasional
Ket. Pegunungan Ivanpah di Cagar Alam Nasional Mojave, California. Studi mengungkapkan terdapat unsur tanah jarang di dalam Cagar Alam Nasional Mojave.

UNSUR tanah jarang (rare earth elements/REE), sendiri merupakan kelompok 17 unsur kimia dalam tabel periodik, terdiri dari 15 unsur lantanida serta skandium dan yttrium. Meski disebut “jarang”, unsur-unsur ini sebenarnya cukup melimpah di kerak Bumi. Namun, keberadaannya yang tersebar dan bercampur dengan mineral lain membuatnya sulit ditemukan dalam konsentrasi tinggi yang layak ditambang secara ekonomis.

Penelitian yang dipublikasikan pada 8 April di jurnal Science Advances ini dipimpin oleh Carl Spandler, profesor mineralogi dan geokimia dari University of Adelaide. Ia menyatakan bahwa bahan dasar pembentuk deposit unsur tanah jarang telah ada sejak ratusan juta hingga miliaran tahun lalu.

“Dengan mengidentifikasi lokasi proses-proses kuno ini, kita dapat secara signifikan mempersempit area pencarian untuk penemuan di masa mendatang,” ujarnya dikutip cari Live Science.

Dalam studi tersebut, para ilmuwan menemukan bahwa unsur tanah jarang terbentuk dari jenis magma tertentu, yakni magma alkali dan karbonatit. Magma ini kaya akan logam alkali seperti natrium dan kalium, serta mineral karbonat seperti kalsit dan dolomit.

Yang menarik, magma jenis ini ternyata terbentuk di atas zona subduksi kuno. Ketika satu lempeng tektonik menyelam ke bawah lempeng lain, berbagai zat seperti air dan unsur halogen dilepaskan ke mantel Bumi di atasnya.

Zat-zat tersebut kemudian bereaksi dengan batuan mantel seperti peridotit, menciptakan wilayah yang disebut sebagai mantel “dipupuk” (fertilized mantle). Wilayah ini dapat bertahan stabil selama jutaan tahun sebelum akhirnya mencair dan menghasilkan magma yang membawa unsur tanah jarang ke permukaan.

Menantang Teori Lama Mantel Plume

Temuan ini sekaligus menantang teori sebelumnya yang mengaitkan pembentukan unsur tanah jarang dengan mantel plume kolom besar batuan panas yang naik dari dekat inti Bumi. Meski mantel plume tidak sepenuhnya dikesampingkan, para peneliti menilai mekanisme tersebut tidak selalu berperan dominan. Selain itu, suhu mantel plume yang sangat tinggi dinilai kurang cocok untuk menghasilkan magma alkali dan karbonatit.

Untuk menguji hipotesisnya, tim peneliti menggunakan pemodelan geologi canggih guna merekonstruksi pergerakan lempeng tektonik selama 2 miliar tahun terakhir. Mereka kemudian membandingkan lokasi zona subduksi purba dengan posisi deposit unsur tanah jarang yang diketahui saat ini.

Hasilnya menunjukkan korelasi yang kuat. Secara global, sekitar 67 persen kantong magma alkali dan karbonatit serta 72 persen deposit unsur tanah jarang berada di atas wilayah mantel yang “dipupuk” oleh proses subduksi kuno. Angka tersebut bahkan meningkat hingga 92 persen untuk deposit yang berusia lebih dari 540 juta tahun, menunjukkan bahwa endapan yang lebih tua cenderung terbentuk dari proses geologi ini.

Salah satu temuan paling mencolok dalam studi ini adalah adanya jeda waktu yang sangat panjang antara proses subduksi dan pembentukan deposit mineral. “Jeda waktu ini adalah salah satu aspek paling mengejutkan dari temuan kami,” kata Spandler. “Ini menunjukkan bahwa mantel Bumi dapat menyimpan zona yang diperkaya ini selama jutaan tahun sebelum akhirnya menghasilkan endapan mineral,” imbuhnya.

Temuan ini mengindikasikan bahwa proses geologi yang membentuk sumber daya mineral penting bisa berlangsung dalam skala waktu yang sangat panjang dan kompleks.

Unsur tanah jarang memiliki peran krusial dalam berbagai teknologi modern, mulai dari baterai kendaraan listrik, turbin angin, hingga perangkat elektronik seperti ponsel pintar. Namun, pencarian deposit yang ekonomis masih menjadi tantangan besar. Dalam konteks ini, hasil penelitian memberikan arah baru bagi eksplorasi sumber daya.

Menurut Andrew Merdith, salah satu penulis studi, pendekatan berbasis zona subduksi kuno dapat membantu pemerintah dan perusahaan menemukan deposit baru secara lebih efisien. “Dengan berfokus pada zona tektonik kuno ini, eksplorasi dapat dilakukan dengan lebih terarah,” ujarnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Menbud Ungkap Jadwal Terbit Buku Sejarah Baru

26 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
Menbud Ungkap Jadwal Terbit...

Woody Kembali Beraksi di Film “Toy Story 5

45 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Rona
Woody Kembali Beraksi di Fi...
Nasional
Kementan Ungkap Produksi Su...
Rona
Joe Taslim Turut Berperan d...
Daerah
PT KAI: Volume Penumpang St...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Gempa Magnitudo 5,1 Kembali Guncang Sulawesi Tengah

Gempa Magnitudo 5,1 Kembali Guncang Sulawesi Tengah

17 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.