Deal Energi Besar, Indonesia Bakal Impor 150 Juta Barel dari Rusia
📅 Kamis, 23 Apr 2026, 19:40 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Rencana impor 150 juta barel minyak dari Rusia mencerminkan upaya Indonesia untuk mengamankan pasokan energi di tengah volatilitas harga global sekaligus mencari sumber yang lebih kompetitif.
Dalam konteks pasar yang bergejolak, diversifikasi pemasok menjadi langkah rasional untuk menekan biaya impor dan menjaga stabilitas pasokan domestik, terutama ketika harga minyak dunia cenderung tinggi.
Namun, langkah ini juga membawa konsekuensi strategis, baik dari sisi geopolitik maupun tata kelola energi. Ketergantungan pada satu sumber berpotensi meningkatkan risiko jika terjadi perubahan kebijakan atau tekanan internasional, sementara aspek logistik dan skema pembayaran juga perlu dikelola secara hati-hati.
Karena itu, kebijakan impor ini idealnya diimbangi dengan percepatan transisi energi dan peningkatan produksi domestik, agar ketahanan energi nasional tetap terjaga dalam jangka panjang.
Utusan Khusus Presiden bidang Energi dan Lingkungan Hashim Djojohadikusumo mengungkapkan Indonesia mendapat 150 juta barel minyak dari Rusia dengan harga khusus, hasil kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Indonesia sekarang sudah ada komitmen dari pemerintah Rusia, 150 juta barel kita bisa simpan di Indonesia untuk menghadapi masalah-masalah gejolak ekonomi,” ujar Hashim dalam acara Economic Briefing 2026 yang digelar di Jakarta, Kamis (23/4).
Hashim menjelaskan bahwa kesepakatan tersebut merupakan buah dari kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia pada Senin (13/4). Dalam kunjungan tersebut, Prabowo bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin selama tiga jam.
Dalam pertemuan tersebut, tutur Hashim, mulanya Rusia menyetujui untuk segera mengirim 100 juta barel minyak ke Indonesia dengan harga khusus.
Sebaiknya Anda baca juga:
Apabila Indonesia masih membutuhkan tambahan, kata Hashim, maka Rusia akan menambah pasokan sebesar 50 juta barel minyak untuk Indonesia menghadapi gejolak ekonomi.
“Jadi dia (Prabowo) ke Moskow bukan untuk foya-foya. Dia ke Moskow ketemu Presiden Putin selama 3 jam dan dapat komitmen dari Presiden Putin,” ujar Hashim.
Dengan demikian, Rusia menjadi alternatif pemasok energi ke Indonesia di tengah krisis energi yang saat ini sedang melanda dunia akibat perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.
Diwartakan sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membidik minyak mentah atau crude yang diimpor dari Rusia bisa dikirim ke Indonesia mulai bulan April 2026.
Sementara itu, untuk pembelian LPG dari Rusia, Bahlil menyampaikan masih dalam proses finalisasi. Persentase LPG yang diimpor dari Rusia terhadap total kebutuhan Indonesia pun masih dalam pembahasan.
Langkah-langkah tersebut merupakan strategi pemerintah untuk menjamin keandalan pasokan energi di tengah kondisi geopolitik yang tidak menentu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!