Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Perkuat Peran OJK di Era Ketidakpastian Global

📅 Jumat, 17 Apr 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Perkuat Peran OJK di Era Ketidakpastian Global Doc: ANTARA/DHEMAS REVIYANTO
Ket. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi

Pelantikan Friderica Widyasari Dewi sebagai Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK OJK) menandai babak baru penguatan pengawasan sektor keuangan, dengan tantangan besar menyeimbangkan inovasi, stabilitas, dan revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) di tengah risiko global.

Pelantikan Friderica Widyasari Dewi sebagai Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan periode 2026–2031 pada 25 Maret lalu menandai fase baru dalam arah pengawasan sektor jasa keuangan nasional. Menggantikan Mahendra Siregar, kepemimpinannya diharapkan mampu merespons dinamika industri yang semakin kompleks, mulai dari digitalisasi layanan keuangan hingga meningkatnya eksposur terhadap risiko global.

Tantangan yang dihadapi tidak ringan, terutama terkait pembahasan revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) yang akan menjadi fondasi baru bagi penguatan regulasi dan kelembagaan sektor keuangan. Revisi ini berpotensi mengubah lanskap pengawasan, termasuk pembagian kewenangan, penguatan perlindungan konsumen, hingga pengawasan lintas sektor yang lebih terintegrasi.

Dalam konteks tersebut, peran OJK tidak hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai penjaga stabilitas sistem keuangan menjadi semakin krusial. Keberhasilan kepemimpinan Friderica akan sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga keseimbangan antara mendorong inovasi dan memastikan mitigasi risiko berjalan efektif, terutama di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.

Untuk mengetahui sejauh mana OJK merespons berbagai dinamika berkenaan dengan sektor jasa keuangan dan kelembagaan, berikut pernyataan Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi dalam beberapa kesempatan yang dirangkum wartawan Koran Jakarta, Frederikus W Sabini.

Bagaimana kinerja sektor jasa keuangan hingga Maret 2026 di tengah konflik global?

Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK yang dilangsungkan pada 1 April 2026 menilai bahwa stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga.

Perekonomian global sempat diperkirakan berada dalam jalur penguatan sebelum terjadinya perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Namun, seiring dengan eskalasi tensi geopolitik di kawasan teluk, risiko terhadap stabilitas global meningkat yang terlihat pada tekanan harga energi dan volatilitas pasar keuangan global.

Tingginya ketidakpastian global dan tekanan harga energi juga mempersempit ruang kebijakan moneter bagi bank sentral global sekaligus kembali memunculkan ekspektasi high for longer.

Bagaimana gambaran perekonomian global saat ini?

Perekonomian AS menunjukkan kecenderungan tertekan di tengah inflasi yang persisten dan peningkatan tingkat pengangguran. The Fed mempertahankan suku bunga kebijakan dengan sinyal hanya satu kali pemangkasan suku bunga sepanjang tahun 2026.

Namun, pascaeskalasi konlfik Iran, ekspektasi pasar bergeser ke skenario tidak adanya pemangkasan suku bunga di 2026 ini.

Sementara itu, perekonomian Tiongkok mencatat kinerja di atas ekspektasi, didorong oleh perbaikan dari sisi permintaan dan penawaran, serta dukungan stimulus pada sektor keuangan. Namun, Tiongkok tetap menurunkan target pertumbuhan sebagai respons terhadap tantangan struktural dan ketidakpastian eksternal yang masih berlanjut.

Bagaimana dengan kondisi perekonomian dalam negeri?

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...

KPK Berharap Nusron Wahid Kooperatif

51 menit yang lalu | Ones

Nasional
KPK Berharap Nusron Wahid K...

Capaian realisasi investasi nasional

59 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Capaian realisasi investasi...

Dua tahun pemerintahan Prabowo

59 menit yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
Dua tahun pemerintahan Prabowo
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.