Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kenaikan Harga Plastik, Ganggu Pasokan Bahan Baku Mulai Tekan Industri di Tanah Air

📅 Jumat, 17 Apr 2026, 15:50 WIB | Oleh:
Kenaikan Harga Plastik, Ganggu Pasokan Bahan Baku Mulai Tekan Industri di Tanah Air Doc: Dok. Istimewa

JAKARTA - Founder & Chairman Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi menilai gangguan rantai pasok global telah mulai berdampak langsung pada ketersediaan bahan baku industri (non-energi) di Indonesia. Indikasi paling nyata terlihat dari lonjakan harga plastik domestik yang meningkat hingga 50–100 persen, mencerminkan gangguan pasokan bahan baku impor yang menjadi input utama berbagai sektor manufaktur.

"Kondisi ini bukan sekadar kenaikan harga, tetapi merupakan sinyal awal dari krisis stok bahan baku. Gangguan tidak hanya terjadi pada plastik, tetapi juga pada bahan kimia industri seperti sulfur dan acid, material logam seperti aluminium, serta material kritikal seperti helium yang digunakan dalam industri elektronik dan teknologi tinggi. Banyak dari material tersebut sulit disubstitusi dalam jangka pendek, sehingga berdampak langsung pada proses produksi," katanya dalam keterangan tertulisnya, Jumat (17/4).

Kerentanan Indonesia semakin besar karena struktur industrinya masih bergantung pada impor. Lebih dari 70 persen kebutuhan bahan baku industri nasional dipenuhi dari luar negeri, terutama untuk sektor kimia, petrokimia, dan manufaktur berbasis material. Ketika pasokan global terganggu, industri domestik menghadapi risiko keterlambatan bahan baku, penurunan kapasitas produksi, serta peningkatan biaya input.

SCI melihat bahwa gangguan saat ini bersifat multi-material shortage, yaitu berbagai jenis bahan baku terdampak secara bersamaan. Dampaknya tidak hanya pada harga, tetapi juga pada ketersediaan fisik material, yang berpotensi menekan utilisasi pabrik dan mengganggu kontinuitas produksi. Dalam jangka pendek, kondisi ini dapat memicu efek berantai berupa peningkatan lead time, kenaikan biaya produksi, serta tekanan terhadap harga produk di pasar.

"Tanpa langkah mitigasi yang cepat dan terkoordinasi, gangguan pasokan bahan baku ini berpotensi menjadi hambatan struktural bagi pertumbuhan industri Indonesia. Sebaliknya, kondisi ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat ketahanan rantai pasok nasional dan meningkatkan daya saing industri di tengah dinamika global," kata Setijadi.

Rekomendasi
SCI menyampaikan lima rekomendasi bagi para pihak. Pertama, diversifikasi pasokan harus dilakukan secara agresif dan terukur; tidak lagi bergantung pada satu atau dua negara pemasok utama. Diversifikasi dengan memetakan sumber alternatif di berbagai kawasan seperti Asia Selatan, Afrika, dan Amerika Latin, sekaligus mengevaluasi risiko geopolitik, stabilitas pasokan, dan kesiapan logistik agar tidak menciptakan kerentanan baru dalam rantai pasok.

Kedua, strategi persediaan diperkuat melalui selective buffering berbasis risiko. Perusahaan harus mengidentifikasi bahan baku kritis yang sulit disubstitusi, lalu menerapkan kebijakan persediaan yang adaptif. Pendekatan ini bukan sekadar menambah stok, tetapi memastikan ketersediaan material strategis untuk menjaga kontinuitas produksi tanpa membebani biaya inventory secara berlebihan.

Ketiga, visibilitas dan kontrol end-to-end rantai pasok harus ditingkatkan. Dalam kondisi ketidakpastian tinggi, perusahaan perlu memiliki transparansi penuh dari pemasok hulu hingga distribusi hilir. Pemanfaatan teknologi seperti digital supply chain, tracking system, dan predictive analytics menjadi kunci untuk mendeteksi potensi gangguan lebih dini dan memungkinkan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat.

Keempat, fleksibilitas material dan desain produk perlu dikembangkan. Perusahaan harus mulai mengkaji alternatif bahan baku untuk mengurangi ketergantungan pada material tertentu. Hal ini memerlukan kolaborasi antara fungsi procurement, R&D, dan produksi agar substitusi material tetap memenuhi standar kualitas dan tidak mengganggu performa produk.

Kelima, penguatan industri hulu dalam negeri harus dipercepat. Pemerintah perlu mendorong pengembangan sektor bahan baku domestik, khususnya petrokimia, kimia dasar, dan material industri. Selain mengurangi ketergantungan impor, langkah ini juga perlu didukung dengan integrasi hulu–hilir agar rantai pasok nasional menjadi lebih kuat, efisien, dan adaptif terhadap gangguan global.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Saham SpaceX Meroket, Elon Musk Jadi Triliuner Pertama di Dunia

Saham SpaceX Meroket, Elon Musk Jadi Triliuner Pertama di Dunia

13 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.