Dorong Reformasi Subsidi untuk Ketahanan Energi
📅 Senin, 13 Apr 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiIa menilai sektor transportasi, khususnya kendaraan pribadi, masih menjadi penyumbang terbesar konsumsi energi. Oleh karena itu, peralihan ke transportasi publik perlu didorong secara masif, termasuk melalui penggantian armada bus menjadi listrik.
Djoko juga menekankan pentingnya integrasi antarmoda seperti KRL, MRT, LRT, dan angkutan pengumpan agar konektivitas meningkat dan masyarakat terdorong meninggalkan kendaraan pribadi.
Selain itu, reformasi subsidi energi dinilai mendesak karena selama ini lebih banyak dinikmati kelompok menengah ke atas. Ia mendorong digitalisasi penyaluran subsidi agar lebih tepat sasaran.
Pengalihan sebagian anggaran subsidi BBM ke pembangunan infrastruktur kendaraan listrik, seperti Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), jalur sepeda, dan fasilitas pejalan kaki juga dinilai penting.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, pengembangan bahan bakar nabati seperti biodiesel B40 dan B50 dinilai perlu dilanjutkan secara seimbang agar mendukung ketahanan energi tanpa mengganggu ketahanan pangan.
“Melalui integrasi kebijakan yang komprehensif, mulai dari reformasi subsidi, dukungan terhadap produksi bus listrik nasional, hingga optimalisasi logistik jalur rel, Indonesia memiliki peluang besar untuk keluar dari krisis energi,” kata Djoko.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!