Efek Domino Konflik Iran–AS–Israel Makin Terasa, Rupiah Melemah 1,99 Persen Sepanjang 2026
📅 Sabtu, 11 Apr 2026, 19:10 WIB | Oleh: Muchamad IsmailJAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah sebesar 333 poin atau sekitar 1,99 persen sepanjang tahun ini mencerminkan kuatnya tekanan eksternal, terutama dari eskalasi konflik geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Ketidakpastian global tersebut mendorong pelaku pasar masuk ke aset safe haven seperti dolar AS, sehingga memicu arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kondisi ini diperparah oleh lonjakan harga minyak dunia akibat konflik, yang meningkatkan beban impor energi dan menekan fundamental eksternal domestik.
Akibatnya, rupiah tidak hanya melemah, tetapi juga melampaui asumsi pemerintah di kisaran Rp16.500 per dolar AS, menandakan tekanan yang lebih dalam dari sekadar fluktuasi jangka pendek.
Secara keseluruhan, pelemahan ini menunjukkan bahwa stabilitas rupiah saat ini sangat sensitif terhadap dinamika global.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tanpa meredanya tensi geopolitik atau masuknya kembali arus modal asing, ruang penguatan rupiah cenderung terbatas meskipun intervensi otoritas moneter terus dilakukan.
Seperti diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan, Jumat (10/4), melemah 14 poin atau 0,08 persen menjadi Rp17.104 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.090 per dolar AS.
Sebagai perbandingan, kurs rupiah terhadap dolar AS, dalam perdagangan, pada 30 Desember 2026 ditutup menguat 17 poin atau sekitar 0,10 persen dari sehari sebelumnya ke level 16.771 rupiah per dollar AS atau melampaui target dalam APBN 2025 di level 16.000 rupiah per dollar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi sikap wait and see pasar jelang rilis data inflasi Consumer Price Index (CPI) AS.
“Meskipun sempat terapresiasi ke level Rp17.083 pada awal sesi, tekanan eksternal masih mendominasi, terutama akibat penguatan dolar AS menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat,” katanya di Jakarta.
Data CPI AS diperkirakan meningkat, sehingga memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dan menopang penguatan dolar AS.
Di samping itu, lanjutnya, ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta potensi gangguan distribusi energi global turut meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, yang turut memberikan tekanan pada rupiah.
Melihat sentimen domestik, intervensi Bank Indonesia (BI) disebut menjadi penopang utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global.
Dia mengatakan bahwa Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti menegaskan stabilisasi rupiah menjadi prioritas, dengan langkah intervensi di pasar spot dan non-deliverable forward (NDF), serta kesiapan membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!