Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bukan Sekadar Penyakit Anak, Campak Kini Mengancam Orang Dewasa dan Tenaga Medis

📅 Kamis, 09 Apr 2026, 18:35 WIB | Oleh:
Bukan Sekadar Penyakit Anak, Campak Kini Mengancam Orang Dewasa dan Tenaga Medis Doc: IDAI
Ket. dr. Nina Dwi Putri, Sp.A(K), MSc., Dokter Spesialis Anak Konsultan Infeksi dan Penyakit Tropis yang juga merupakan Pengurus Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Indonesia menghadapi lonjakan 17.204 kasus campak.

JAKARTA – Sorotan publik terhadap kasus dokter muda yang meninggal diduga akibat komplikasi campak menjadi pengingat bahwa penyakit ini bukan sekadar “penyakit anak-anak” yang ringan. Di tengah situasi peningkatan kasus saat ini, campak perlu dilihat sebagai ancaman kesehatan nasional yang serius bagi semua kelompok usia, menular sangat cepat dan menyebar di lingkungan padat, termasuk rumah, sekolah, hingga fasilitas kesehatan.

Data World Health Organization (WHO) menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia untuk jumlah kasus campak terbanyak, dengan 17,204 kasus terkonfirmasi sepanjang tahun 2025. Tren ini berlanjut dimana data Kementerian Kesehatan RI mencatat hingga minggu ke-8 tahun tahun 2026 terdapat 8.372 kasus terkonfirmasi dan 10.453 kasus suspek. Kondisi ini menegaskan urgensi penguatan upaya pencegahan campak di Indonesia.

Mengapa Campak Sangat Berbahaya?

Campak adalah infeksi virus akut yang sangat menular melalui udara. Virus ini memiliki daya tular (R₀) sebesar 12-18, yang artinya satu orang yang terinfeksi campak dapat menularkan virus kepada hingga 18 orang lain pada populasi rentan. 

Virus campak juga dapat bertahan di udara atau menempel pada permukaan benda di ruang tertutup hingga dua jam setelah penderita meninggalkan lokasi. Tanpa perlindungan vaksinasi, campak dapat memicu komplikasi berat seperti pneumonia (radang paru), ensefalitis (radang otak), hingga risiko kematian.

Melihat tren kenaikan kasus ini, dr. Nina Dwi Putri, Sp.A(K), MSc (TropPaed), Dokter Spesialis Anak Konsultan Infeksi dan Penyakit Tropis yang juga merupakan Pengurus Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), mengingatkan bahwa risiko penularan campak pada anak berpotensi meningkat seiring dengan tingginya mobilitas dan interaksi, misalnya saat momen Lebaran maupun awal tahun ajaran baru di sekolah.

 “Interaksi fisik yang intens di ruang tertutup, seperti di transportasi umum atau kelas, dapat mempermudah penyebaran virus melalui percikan batuk atau bersin8. Dampak jangka panjangnya pun sangat mengkhawatirkan, salah satunya yaitu immune amnesia5,” ujar dr. Nina melalui keterangannya pada hari Kamis (9/4).

Lebih lanjut, dr. Nina menjelaskan bahwa virus campak bersifat imunosupresif yang secara unik mampu 'menghapus' memori sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit lain yang pernah diderita anak sebelumnya. 

"Studi ilmiah menunjukkan bahwa 11% hingga 73% dari “bank memori” antibodi dapat hilang setelah infeksi campak.5 Artinya, ketika anak terkena campak, pertahanan tubuh yang sudah terbentuk bisa runtuh. Setelah sembuh, anak justru menjadi lebih rentan terhadap infeksi bakteri atau virus lain.” jelasnya.

Dewasa Kini Menjadi Kelompok Berisiko Tinggi

Saat ini, sekitar 8% dari total kasus campak di Indonesia ditemukan pada usia dewasa. Berdasarkan panduan dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), terdapat beberapa kategori orang dewasa yang memiliki risiko tinggi tertular atau mengalami komplikasi berat akibat campak, diantaranya tenaga medis yang terpapar langsung di fasilitas kesehatan, pelancong ke daerah endemis, penghuni lingkungan padat, hingga individu dengan penyakit kronis atau gangguan imun.

Menanggapi hal ini, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD-KAI, FINASIM, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI), menekankan pentingnya perlindungan bagi kelompok dewasa yang berisiko tinggi.

“Kasus pada tenaga medis baru-baru ini adalah alarm bagi kita semua. Bagi orang dewasa yang tidak memiliki bukti kekebalan atau belum pernah menerima dua dosis vaksin, vaksinasi MMR sangat perlu dilakukan untuk mencegah komplikasi berat dan mendukung terciptanya herd immunity sebesar 95%."

Ditambahkan dr. Sukamto, kerentanan campak pada orang dewasa dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain riwayat imunisasi yang tidak lengkap atau sering kali tidak terdokumentasi dengan jelas, kegagalan vaksinasi primer yaitu ketika tubuh sama sekali tidak membentuk kekebalan (terjadi pada sekitar 5% individu yang divaksinasi); serta waning immunity yaitu ketika antibodi menurun 15-20 tahun pascavaksinasi (terjadi pada 2–10% penerima vaksin).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...

BPJS Kesehatan Edukasi Polda Kepri Terkait Program JKN

1.5 jam yang lalu | Bambang Wijanarko

Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Rona
6 Drama Korea Baru yang Waj...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.