Lonjakan Harga Menguji, Perajin Tahu Tempe Bekasi Tak Kehabisan Cara
📅 Selasa, 07 Apr 2026, 17:20 WIB | Oleh: Tim PenulisBEKASI – Di gang-gang sempit sentra produksi tahu dan tempe di Bekasi, aktivitas tetap berdenyut sejak dini hari. Asap tipis dari tungku, bunyi kedelai yang digiling, hingga ember-ember berisi adonan menjadi tanda bahwa usaha kecil ini belum menyerah—meski tekanan ekonomi kian terasa dari berbagai arah.
Lonjakan harga kedelai, bahan bakar, hingga material pendukung seperti plastik dan ragi memaksa para perajin untuk berpikir lebih taktis. Bukan lagi sekadar produksi rutin, melainkan seni bertahan. Ada yang mulai mengatur ulang takaran bahan, mengecilkan ukuran produk tanpa mengorbankan kualitas rasa. Ada pula yang memutar strategi distribusi, menjual langsung ke pelanggan untuk memangkas biaya perantara.
Di balik keputusan-keputusan kecil itu, tersimpan kalkulasi yang tidak sederhana. Setiap rupiah dihitung, setiap risiko dipertimbangkan. Mereka sadar, menaikkan harga terlalu cepat bisa membuat pelanggan berpaling. Namun, bertahan tanpa perubahan juga bisa menggerus keberlangsungan usaha.
Sebagian perajin kini juga mulai melirik cara-cara baru—memanfaatkan pemasaran digital sederhana atau membangun jaringan pelanggan tetap. Langkah-langkah ini mungkin terlihat kecil, tetapi menjadi penopang penting di tengah ketidakpastian yang belum mereda.
Di Bekasi, kisah perajin tahu dan tempe bukan hanya soal produksi pangan, melainkan tentang daya lenting. Tentang bagaimana usaha mikro terus beradaptasi, menjaga api tungku tetap menyala, dan memastikan roda ekonomi kecil tetap berputar, meski diterpa gelombang kenaikan biaya yang tak kunjung reda.
Sebaiknya Anda baca juga:
Perajin tahu asal Kecamatan Cikarang Barat, Deden (55) mengungkapkan sejumlah penyesuaian seperti memperkecil ukuran produk hingga membatasi jumlah pekerja terpaksa dilakukan sebagai dampak peningkatan harga bahan baku kedelai impor serta plastik kemasan.
"Saya ingin menyelamatkan usaha yang sudah sejak lama saya rintis. Terpaksa dilakukan biar bisa terus produksi," katanya di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Selasa (7/4).
Ia menjelaskan lonjakan harga kedelai impor memaksanya untuk memperkecil ukuran tahu meski tidak signifikan sedangkan dari aspek pekerja, sebagian karyawan dirumahkan untuk sementara.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Jumlah pekerja dibatasi. Hampir 50 persen pekerja dirumahkan, tapi hanya untuk sementara. Saat permintaan besar, baru semua karyawan dipekerjakan. Dalam satu minggu ada sekitar tiga hari di mana karyawan masuk semua. Alhamdulillah mereka semua memahami," katanya.
Sementara perajin tempe di Desa Jayasampurna, Kecamatan Serang Baru Sukhep (51) mengatakan, harga beli kedelai yang menjadi bahan baku utama produksi tempe kini mencapai Rp10.900 per kilogram dari semula Rp10.000.
"Kalau biasanya satu kuintal kedelai harganya Rp1 juta, sekarang sudah tembus Rp1.090.000," kata Sukhep.
Menurutnya,tren kenaikan harga bukan hal baru karena sudah mulai terjadi saat menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Namun masalahnya adalah fluktuasi harga yang begitu cepat bahkan setiap kali stok baru didistribusikan ke perajin.
"Pokoknya setiap kali turun dari truk, harga naik Rp10 ribu per kuintal. Besok juga bisa saja naik lagi Rp10 ribu," ucapnya.
Tak hanya kedelai, harga plastik pembungkus yang bergantung pada biji plastik impor juga ikut melonjak. Plastik per rol yang semula seharga Rp270 ribu, kini meroket hingga Rp380 ribu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!