Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bahaya Medsos Mengintai Anak, PP Tunas Hadir Jadi Solusi!

📅 Sabtu, 04 Apr 2026, 20:04 WIB | Oleh:
Bahaya Medsos Mengintai Anak, PP Tunas Hadir Jadi Solusi! Doc: Antara Foto
Ket. Praktisi Pendidikan Dr. Putu Candra Prastya Dewi, M.Pd.

Praktisi pendidikan Bali menilai Peraturan Pemerintah Nomor 17 tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas) merupakan upaya preventif dalam menghadapi berbagai dampak negatif dari penggunaan media sosial (medsos).

"PP Tunas merupakan bentuk perlindungan nyata terhadap anak-anak di era digital," kata Direktur Bimbingan Saraswati Education Singaraja Dr. Ni Putu Candra Prastya Dewi di Singaraja, Bali, Sabtu.

Menurutnya, selama ini orang tua menghadapi kesulitan dalam mengawasi penggunaan media sosial oleh anak, terutama dengan semakin mudahnya akses terhadap perangkat digital.

Ia menegaskan media sosial tidak sepenuhnya aman bagi anak. Banyak risiko yang dapat muncul, seperti cyber bullying yang berdampak pada psikologis anak.

Selain itu, dampak terhadap kesehatan mental dan emosional anak juga menjadi perhatian serius. Paparan konten yang tidak sesuai usia dapat memengaruhi pola pikir, emosi, serta perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berpotensi mengganggu proses perkembangan anak secara menyeluruh.

Tidak hanya dari sisi psikologis, penggunaan media sosial yang berlebihan juga berdampak pada aspek akademik. Anak-anak cenderung menjadi lebih malas belajar karena terlalu asyik dengan aktivitas scrolling yang tanpa batas. Kondisi ini berpotensi membuat anak melupakan kewajiban utama sebagai pelajar.

"Terlebih, ada kecenderungan anak lebih tertarik pada konten hiburan dibandingkan konten edukatif. Konten yang ringan, viral, dan menghibur lebih mudah menarik perhatian, sehingga mereka kurang memiliki motivasi untuk mengakses materi pembelajaran yang lebih bermanfaat," katanya.

Lebih jauh, dorongan untuk mengikuti tren di media sosial juga menjadi faktor kuat yang memengaruhi perilaku anak. 

Sebaiknya Anda baca juga:

"Dengan adanya kebijakan ini, maka tekanan sosial untuk selalu mengikuti tren akan berkurang. Anak-anak tidak lagi menjadikan media sosial sebagai kebutuhan utama, melainkan kembali fokus pada aktivitas yang lebih produktif dan sesuai dengan tahap perkembangan," katanya.

Pembatasan ini juga diyakini akan mendorong anak untuk lebih aktif berinteraksi dalam lingkungan nyata. Interaksi sosial secara langsung dinilai lebih sehat dan mampu membentuk karakter serta keterampilan sosial yang lebih baik.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Siswa Bermasalah Tak Layak Menerima Bantuan Biaya Sekolah

19 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Siswa Bermasalah Tak Layak ...

Haree Gini Masih Buang Sampah Sembarangan…Bakal Masuk Bui

24 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Haree Gini Masih Buang Samp...
Megapolitan
Truk Trailer Alami Kecelaka...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
Crysencio Summerville
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.