Bagaimana Surutnya Air Danau Purba di Tibet Picu Gempa Bumi?
📅 Rabu, 25 Mar 2026, 06:52 WIB | Oleh: Haryo BronoPARA peneliti mengatakan bahwa danau-danau yang menyusut di Tibet selatan mungkin telah memicu gempa bumi di wilayah tersebut dengan “membangkitkan” patahan yang telah lama tidak aktif di kerak bumi. Temuan ini menambah bukti adanya hubungan yang sangat kuat antara iklim planet kita dan aktivitas geologis jauh di bawah kaki kita.
Sekitar 115.000 tahun yang lalu, Tibet selatan merupakan rumah bagi danau-danau yang sangat besar, beberapa di antaranya memiliki panjang lebih dari 125 mil (200 kilometer). Saat ini, danau-danau tersebut jauh lebih kecil. Termasuk Danau Nam Co (juga disebut Danau Namtso atau Danau Nam), yang panjangnya hanya 45 mil (75 km).
Sebuah tim ahli geologi yang dipimpin oleh Chunrui Li, seorang peneliti di Akademi Ilmu Geologi Tiongkok di Beijing, menduga bahwa hilangnya air dari danau-danau tersebut mungkin memiliki efek domino terhadap geologi lokal.
Hal ini sebagian karena danau-danau besar membebani kerak bumi. Ketika danau-danau tersebut mulai mengering, beban tersebut hilang dan kerak bumi perlahan naik kembali, sama seperti kapal yang sarat muatan naik di air saat muatannya dikeluarkan.
Poin penting kedua adalah bahwa Tibet selatan secara geologis aktif karena tabrakan yang sedang berlangsung antara India dan Eurasia, yang dimulai sekitar 50 juta tahun yang lalu. Tekanan telah menumpuk di kerak bumi di bawah Tibet selatan, meninggalkan retakan kuno atau patahan di kerak bumi yang siap pecah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Para ahli geologi berpendapat bahwa kenaikan kerak bumi yang lambat yang disebabkan oleh menyusutnya danau-danau tersebut mungkin telah memicu pecahnya kerak bumi dan menghasilkan gempa bumi.
Para peneliti berpikir bahwa hal ini telah terjadi. Mereka menganalisis geologi lokal, memetakan garis pantai danau kuno untuk mengetahui berapa banyak air yang telah hilang dari danau-danau tersebut.
Mereka kemudian menggunakan model komputer untuk memprediksi seberapa besar kerak bumi seharusnya naik sebagai respons, yang mengungkapkan bahwa hal ini seharusnya mengaktifkan kembali patahan di dekatnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Analisis studi ini diterbitkan pada 17 Januari di jurnal Geophysical Research Letters menunjukkan bahwa kehilangan air dari Danau Nam Co antara 115.000 dan 30.000 tahun yang lalu menyebabkan total pergerakan 50 kaki (15 meter) pada patahan di dekatnya.
Danau-danau yang berjarak 60 mil (100 km) di selatan Danau Nam Co telah kehilangan lebih banyak air selama periode waktu yang sama. Di sana, mungkin telah terjadi pergerakan 230 kaki (70 m) pada patahan di dekatnya.
Perhitungan ini menunjukkan bahwa patahan di wilayah tersebut telah mengalami pergerakan antara 0,008 dan 0,06 inci (0,2 dan 1,6 milimeter) per tahun, rata-rata. Sebagai perbandingan, Patahan San Andreas yang membentang di California mencatat pergerakan yang jauh lebih besar: sekitar 0,8 inci (20 mm) setiap tahun, rata-rata.
Namun di sana, pergerakan sebagian besar didorong oleh proses yang terjadi jauh di bawah tanah. Studi baru ini membuktikan bahwa pergerakan substansial pada patahan juga dapat dipengaruhi oleh proses yang terjadi di atas tanah.
“Proses permukaan dapat memberikan pengaruh yang sangat kuat pada Bumi padat,” kata Matthew Fox, seorang profesor geologi di University College London yang tidak terlibat dalam studi ini, kepada Live Science melalui email.
“Para ahli geologi semakin menyadari bahwa untuk sepenuhnya memahami evolusi suatu lanskap atau wilayah tektonik, kita perlu mempertimbangkan keterkaitan antara proses permukaan dan proses Bumi yang dalam,” tambahnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (3)
25 Mar 2026, 08:18 WIB.
Komentar dihapus otomatis karena terindikasi sebagai spam
Balas25 Mar 2026, 08:18 WIB.
Komentar dihapus otomatis karena terindikasi sebagai spam
Balas25 Mar 2026, 08:19 WIB.
Komentar dihapus otomatis karena terindikasi sebagai spam
BalasSilakan login via Google untuk dapat memberi komentar!