Bertahan di Tengah Keterbatasan, Warga Agam Tetap Putar Roda Ekonomi dari Huntara
📅 Kamis, 19 Mar 2026, 00:45 WIB | Oleh: Tim PenulisAGAM – Di tengah keterbatasan hunian sementara di Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, harapan para penyintas bencana hidrometeorologi di Kabupaten Agam tak ikut runtuh.
Dari bilik-bilik sederhana itulah, mereka pelan-pelan kembali menata hidup—membuka usaha kecil, berdagang seadanya, hingga saling menguatkan agar roda ekonomi tetap berputar.
Meski jauh dari kata ideal, huntara bukan sekadar tempat berteduh, melainkan ruang bertahan sekaligus bangkit.
Dengan semangat gotong royong dan tekad yang tak surut, para penyintas terus berupaya menjaga geliat ekonomi agar tetap hidup, menyalakan harapan di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih.
Di tengah keterbatasan, sejumlah penyintas pada Rabu (18/3), tetap menjalankan aktivitas ekonomi yang sebelumnya telah mereka tekuni. Ada warga yang menerima pesanan katering sederhana, sementara lainnya melanjutkan pekerjaan menjahit di dalam huntara.
Sebaiknya Anda baca juga:
Salah seorang penyintas, Fina (29), yang telah menempati huntara, mengaku masih menerima pesanan makanan untuk acara buka bersama di huntara dan pesanan pribadi yang berasal dari sekitar lingkungan.
“Untuk buka bersama yang di huntara, sudah dua kali. Tapi kalau untuk warga di luar, sudah banyak dapat orderan. Dari karyawan MBG untuk buka bersama ada, terus dari warga-warga setempat, pesan manual yang jemput ke sini ada juga,” kata Fina yang dulunya membuka usaha di lokasi bencana hidrometeorologi.
Mematok harga Rp17 ribu-Rp20 ribu per satu makanan, Fina menerima pesanan untuk buka bersama hari ini sebanyak 350 paket pecel ayam. Namun, karena keterbatasan ruang gerak dan tenaga kerja, ia hanya menyanggupi 200 paket pesanan saja.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia juga menuturkan tidak mengalami kendala dalam memperoleh bahan baku karena aktivitas di pasar setempat sudah bergerak. Meski demikian, untuk kebutuhan kemasan, ia harus menempuh perjalanan sekitar 45 menit ke Lubuk Basung.
Selain usaha katering, aktivitas menjahit juga mulai kembali berjalan. Salah seorang warga tampak memanfaatkan mesin jahit yang berhasil diselamatkan saat bencana untuk menerima pesanan perbaikan maupun pembuatan pakaian.
Jurspartima, salah satu penyintas, mengatakan dirinya baru memulai aktivitas menjahit sekitar dua pekan lalu setelah mesin jahitnya selesai diperbaiki akibat terkena lumpur.
Meski bekerja di ruang terbatas, ia berkejar dengan waktu agar mampu menyelesaikan pesanan baju seragam sekolah pada Rabu malam agar jasa jahit bisa diterima sebelum Lebaran.
“Dapat pesanan 10 kodi baju pramuka. Ongkos menjahit Rp90 se kodi, bahan, pemotongan dari bos, tinggal menyatukan saja,” ucap dia.
Jurspartima mengaku bahwa dia sebelumnya juga ditawari untuk menjahit baju gamis, hanya saja karena mesin jahitnya baru selesai diperbaiki, ia menolak tawaran tersebut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (1)
26 Mar 2026, 16:28 WIB.
Komentar dihapus otomatis karena terindikasi sebagai spam
BalasSilakan login via Google untuk dapat memberi komentar!