Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Menyongsong Target Penjaminan Polis pada 2027

📅 Jumat, 13 Mar 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Kondisi tersebut berbeda dengan perbankan konvensional yang tingkat literasi dan inklusinya relatif seimbang. Pada sektor syariah, hambatan justru terjadi pada sisi penyediaan layanan sehingga menghambat masyarakat untuk beralih.

Masyarakat sebenarnya sudah tahu dan sadar bahwa saya harus bertransaksi di Bank Syariah, tapi memang suplainya kurang. E-banking-nya belum bagus, pricing-nya masih tinggi, kalau mau pembiayaan masih mahal, mau cari jaringannya sulit.

Apa penyebab rendahnya inklusi keuangan syariah?

Rendahnya inklusi bukan disebabkan minimnya kesadaran masyarakat, melainkan keterbatasan kapasitas dan layanan industri. Menurutnya, permodalan bank syariah yang kecil berdampak pada belum optimalnya layanan bagi masyarakat luas.

Jadi memang harus ada usaha untuk menambah suplainya. Contohnya tadi yang saya sebutkan BSI, sekarang BSN. Itu kan di-merger. Kalau bisa ada usaha untuk bisa menambah suplai dengan cara-cara yang sifatnya anorganik.

Pertumbuhan industri keuangan syariah tidak bisa sepenuhnya mengandalkan pertumbuhan organik jika ingin meningkatkan pangsa pasar secara cepat. Langkah anorganik seperti merger dan akuisisi dinilai diperlukan untuk mengejar target market share ideal sebesar 20 persen.

Kontribusi perbankan syariah yang sebelumnya lama bertahan di kisaran 5 persen kini meningkat menjadi 9 persen sejak 2022.

Kita tidak bisa paksakan kalau fasilitasnya belum memadai. Tapi peningkatan inklusi ini bisa dipercepat apabila ada langkah-langkah strategis yang sifatnya anorganik tadi untuk memperkuat industri.

Bagaimana anda melihat industri perbankan syariah saat ini?

Industri perbankan syariah saat ini telah bertransformasi menjadi lebih kompetitif dibandingkan bank umum konvensional. Sebagai contoh, kinerja Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai bukti konkret bahwa bank syariah mampu bersaing dari sisi pricing maupun daya saing bisnis.

Sekarang ini bank syariah lebih kompetitif daripada bank konvensional. Saya bisa buktikan dengan penelitian. Pricing-nya sekarang lebih kompetitif dibandingkan bank umum konvensional

Kondisi ini sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Pada masa sebelumnya, bank umum syariah (BUS) dinilai kalah bersaing dengan bank umum konvensional (BUK).

Bahkan, unit usaha syariah (UUS) yang berada di bawah naungan bank konvensional justru dinilai lebih kompetitif karena mendapatkan dukungan modal, jaringan, serta efisiensi operasional dari induknya. Dulu BUS itu tidak kompetitif dibandingkan BUK. Bahkan kalah dengan UUS karena UUS anak perusahaan bank umum konvensional.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...

Hiu paus terdampar di Bantul

1 jam lalu | Wahyu AP

Rona
Hiu paus terdampar di Bantul
Daerah
Edukasi bantuan hidup dasar...
Nasional
Bakti kesehatan Polri di Po...
Luar Negeri
PBB Terpaksa Kurangi Bantua...
Advertisement
Usai Prancis Membara, Kini Meksiko Rusuh Gara-gara Krisis Air

Usai Prancis Membara, Kini Meksiko Rusuh Gara-gara Krisis Air

19 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.