Manimbora, Monumen Ketenangan di Tengah Hiruk-Pikuk Dunia
📅 Jumat, 13 Mar 2026, 07:11 WIB | Oleh: Haryo BronoAntara Mitos, Nisan, dan Tradisi Bajau
Jika berjalan menjauh dari bibir pantai dan masuk ke area rimbun di bawah naungan janur kelapa, suasana seketika berubah. Hawa tropis yang menyengat berganti menjadi kesejukan yang sedikit mistis. Di sana, di antara akar-akar pohon, terdapat tumpukan batu karang dan nisan-nisan kayu maupun batu yang telah berlumut.
Bagi suku Bajau sang “Gipsi Laut” yang menghuni pesisir Kalimantan, Manimbora bukan sekadar destinasi tamasya. Pulau ini adalah tanah suci, sebuah pemakaman alam di tengah laut. Memakamkan jenazah di pulau tak berpenghuni adalah tradisi lama yang melambangkan kebebasan jiwa untuk kembali ke laut lepas.
Keberadaan makam-makam ini menciptakan dualitas atmosfer yang luar biasa. Di pinggir pantai, akan melihat wisatawan berswafoto dengan tawa riang di atas gosong pasir yang memanjang. Namun, hanya beberapa meter di belakang mereka, keheningan makam tua yang penandanya telah lapuk menjaga pulau itu tetap sakral.
Sebaiknya Anda baca juga:
Nisan-nisan ini pula yang secara tidak langsung menjadi “penjaga” Manimbora; rasa hormat terhadap leluhur membuat pulau ini tetap terjaga dari pembangunan liar atau tangan-tangan jahil yang ingin merusak keasrian alamnya.
Gosong Pasir
Daya tarik utama Manimbora muncul saat air laut mulai surut. Sebuah fenomena alam membentuk sandbank atau gosong pasir yang memanjang ratusan meter ke arah laut, menciptakan jalur putih yang melengkung indah, seperti Bintang berekor atau komet.
Berjalan di atas gosong pasir ini saat sisa-sisa air laut setinggi mata kaki masih menggenang adalah pengalaman spiritual tersendiri. Permukaan air yang tenang memantulkan awan-awan yang di langit, membuat pelancong merasa seolah-olah sedang berdiri di atas cermin raksasa yang tak berujung.
Panorama alam itulah yang menjadi kemewahan Manimbora. Bukan pada fasilitas bintang lima, melainkan pada bahasa alam berupa deru angin, dan suara deburan ombak yang pecah tampak di kejauhan.
Ekosistem yang Menantang Zaman
Meski tampak tangguh, Manimbora sebenarnya adalah ekosistem yang rapuh. Sebagai pulau karang yang rendah, ia berada di garis depan dalam menghadapi ancaman kenaikan permukaan air laut dan abrasi.
Setiap badai besar yang datang membawa tantangan bagi tegakan pohon kelapa yang menjadi ikon pulau tersebut.
Selain itu, masalah sampah kiriman (marine debris) yang terbawa arus lintas samudra seringkali terdampar di pantai indahnya. Hal ini menjadi pengingat pahit bahwa seberapa jauh pun sebuah surga tersembunyi, ia tidak benar-benar terlepas dari dampak aktivitas manusia di belahan dunia lain.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!