Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Analis Wanti-wanti: Harga ponsel pintar Bisa Meroket, Gara-gara Hal Ini

📅 Rabu, 11 Mar 2026, 15:35 WIB | Oleh: Tim Penulis
Analis Wanti-wanti: Harga ponsel pintar Bisa Meroket, Gara-gara Hal Ini Doc: ANTARA FOTO/Naufal Khoirulloh
Ket. Arsip foto - Pedagang merapihkan ponsel bekas yang dijual di ITC Roxy Mas, Jakarta, Minggu (5/10/2025).

JAKARTA – Potensi kenaikan harga ponsel pintar pada 2026 dipengaruhi oleh sejumlah faktor struktural dan global, termasuk fluktuasi nilai tukar, biaya produksi komponen elektronik seperti chip dan layar, serta tekanan inflasi di sektor logistik dan energi.

Kenaikan harga ini berpotensi memengaruhi daya beli konsumen, terutama segmen menengah ke bawah, sekaligus mendorong pergeseran preferensi ke model yang lebih terjangkau atau refurbished.

Selain itu, tren teknologi baru—seperti integrasi kecerdasan buatan, jaringan 5G, dan fitur keamanan tambahan—dapat menambah biaya produksi, sehingga produsen cenderung menyesuaikan harga jual untuk menjaga margin keuntungan.

Dari perspektif pasar, strategi pemerintah dan pelaku industri, seperti insentif impor, kebijakan pajak, dan penawaran promosi, akan menjadi penentu seberapa besar dampak kenaikan harga terhadap permintaan konsumen dan dinamika kompetisi antar merek.

Firma periset pasar global Counterpoint memperingatkan potensi kenaikan harga ponsel pintar pada 2026 seiring dengan meningkatnya biaya komponen RAM memori.

Berdasarkan hasil analisis lembaga tersebut, biaya RAM untuk ponsel telah meningkat sebesar 50 persen dari kuartal ke kuartal, sementara biaya penyimpanan NAND telah meningkat lebih dari 90 persen dari kuartal ke kuartal.

"Harga eceran yang lebih tinggi tidak dapat dihindari pada 2026 karena kenaikan biaya akan diteruskan ke konsumen," kata Analis Senior Counterpoint Shenghao Bai, seperti dikutip dari laporan yang disiarkan di laman resmi mereka, Selasa (10/3).

Biaya memori yang meningkat cukup berdampak pada Bill of Materials (BoM) atau biaya material untuk ponsel pintar.

Menurut analisis lembaga itu, kategori ponsel kelas bawah (di bawah 200 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp3,3 jutaan) menjadi yang paling terpukul.

Saat membuat ponsel khas kelas entry-level dengan RAM LPDDR4X 6GB dan penyimpanan eMMC 128GB, produsen harus menghabiskan 43 persen dari total BoM ponsel untuk memori. Persentase itu meningkat 25 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.

Untuk membuat ponsel kelas menengah (400-600 dolar AS/Rp6,7-10 jutaan) yang memiliki ciri khas konfigurasi memori 8GB RAM LPDDR5X dan penyimpanan UFS 4.0 256GB, para produsen akan menghabiskan 15 persen lebih banyak untuk RAM dan 11 persen lebih banyak untuk penyimpanan.

Perkiraan di atas berlaku untuk ponsel yang dirakit pada kuartal I 2026, sementara pada kuartal II, biaya RAM diperkirakan naik 20 persen dan penyimpanan 16 persen.

Ponsel kelas atas (di atas 800 dolar AS/Rp13 jutaan) mungkin memiliki margin yang lebih besar untuk membantu menyerap dampak kenaikan harga, namun, kelas pasar itu juga menghadapi masalah tambahan yaitu harga chipset 2nm flagship cukup mahal.

Counterpoint memperkirakan bahwa BoM akan naik sebesar 100-150 dolar AS (sekitar Rp1,5-2,6 jutaan) pada Q2 untuk ponsel dengan RAM LPDDR5X HKMG 16GB dan penyimpanan UFS 4.1 512GB. Komponen RAM akan menyumbang 23 persen dari BoM dan penyimpanan akan menyumbang 18 persen.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Luar Negeri
Wabah Penyakit, AS Catat 10...

Pengunjuk Rasa Diimbau Tak Anarkistis

32 menit yang lalu | Ones

Nasional
Pengunjuk Rasa Diimbau Tak ...
Nasional
Penerima Bansos Terindikasi...
Nasional
AI Kian Marak Dipakai untuk...
Nasional
PLTA Sulit Dibiayai Jika Pr...
Nasional
Asia Tenggara Hadapi Cuaca ...
Terindikasi Main Judi Online, Nyaris 1,5 Juta Penerima Bansos Ditahan Bantuannya

Terindikasi Main Judi Online, Nyaris 1,5 Juta Penerima Bansos Ditahan Bantuannya

05 Aug 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.