Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kenapa Sungai-Sungai di NTB Tiba-tiba Berubah Jadi Banjir Bandang

📅 Minggu, 08 Mar 2026, 06:35 WIB | Oleh:

Infrastruktur alam

Banyak orang memandang pohon hanya sebagai elemen penghijauan. Padahal dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, pohon memiliki fungsi yang jauh lebih luas. Ia adalah bagian dari sistem perlindungan lingkungan yang bekerja secara alami.

Setiap pohon memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida sekaligus melepaskan oksigen ke atmosfer. Data dari Arbor Day Foundation menyebutkan satu pohon dewasa dapat menyerap sekitar 21 kilogram karbon dioksida setiap tahun. Jika ribuan pohon ditanam dan tumbuh dengan baik, kontribusinya terhadap pengurangan emisi karbon menjadi sangat signifikan.

Di NTB, manfaat pohon tidak hanya berkaitan dengan isu perubahan iklim global. Ia juga berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Sebagian besar penduduk di provinsi ini menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perkebunan yang sangat bergantung pada ketersediaan air.

Ketika tutupan hutan berkurang, daya serap tanah terhadap air ikut menurun. Akibatnya, sumber mata air menyusut dan musim kemarau terasa lebih panjang. Kondisi ini sudah mulai dirasakan di beberapa daerah, termasuk di wilayah yang dahulu dikenal memiliki banyak sumber air alami.

Karena itu, penanaman pohon sebenarnya adalah upaya memperbaiki siklus air. Akar pohon membantu air hujan meresap ke dalam tanah dan mengisi kembali cadangan air bawah tanah. Dalam jangka panjang, proses ini menjaga keberlanjutan mata air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Di wilayah pesisir, fungsi pohon bahkan lebih penting lagi. Vegetasi pantai seperti mangrove, cemara laut, dan ketapang berperan sebagai pelindung alami dari gelombang besar dan abrasi. Di Kota Mataram, misalnya, ribuan pohon ditanam di sepanjang garis pantai untuk memperkuat ketahanan wilayah pesisir dari dampak perubahan iklim.

Gerakan menanam pohon juga semakin berkembang melalui pendekatan ekonomi. Banyak program penghijauan kini menggunakan tanaman produktif seperti kopi, alpukat, durian, atau kemiri. Pendekatan ini memberi insentif langsung bagi masyarakat untuk merawat pohon yang ditanam.

Di Dompu, misalnya, penanaman pohon kemiri dikembangkan sebagai model kehutanan berbasis masyarakat. Selain menjaga tutupan lahan, tanaman ini juga memberikan potensi pendapatan bagi petani setelah memasuki masa produksi.

Pendekatan serupa juga terlihat dalam berbagai program rehabilitasi lahan di Pulau Sumbawa yang menggabungkan konsep agroforestri. Sistem ini memungkinkan masyarakat menanam tanaman kehutanan sekaligus tanaman pertanian dalam satu lahan yang sama.

Dengan cara ini, gerakan menanam pohon tidak lagi dipandang sebagai beban ekologis, tetapi sebagai peluang ekonomi baru yang lebih berkelanjutan.

Gerakan hijau

Meski berbagai inisiatif penghijauan telah bermunculan, tantangan terbesar sebenarnya bukan pada kegiatan menanam pohon, melainkan memastikan pohon tersebut tumbuh dan bertahan hingga dewasa.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Luar Negeri
Gempa Magnitudo 5,3 Goyang ...
Nasional
BMKG Keluarkan Peringatan D...
Megapolitan
Polisi Gelar Rekayasa Lalin...

Piala AFF 2026: Laga Penentu Grup A, Vietnam Tak Punya Pilihan Selain Menang atas Indonesia

Piala AFF 2026: Laga Penentu Grup A, Vietnam Tak Punya Pilihan Selain Menang atas Indonesia

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.