Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Simfoni Kabut dan Jejak Alpen di Wonosobo

📅 Jumat, 06 Mar 2026, 06:46 WIB | Oleh:
Simfoni Kabut dan Jejak Alpen di Wonosobo Doc: ANTARA/Anis Efizudin
Ket. Wisatawan menaiki wahana Gondola di agrowisata kebun teh De Sikatok, Kejajar, Wonosobo, Jawa Tengah, Kamis (2/1). Wisata alam yang dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata Desa SIkatok bekerja sama dengan PT Perkebunan Teh Tambi tersebut menjadi destinasi wisata penunjang di jalur menuju pegunungan tinggi Dieng.

ADA sebuah waktu yang sakral, yakni sesaat sebelum fajar menyentuh garis horizon sisi timur. Pada saat sebagian besar pulau Jawa masih terlelap, wilayah di kaki pegunungan ini sudah terjaga dalam dekapan kabut yang tebal dan dingin yang menggigit hingga ke tulang.

Di sini, di wilayah yang secara geografis merupakan salah satu yang tertinggi di tanah Jawa, gelar Swiss van Java bukan sekadar metafora usang peninggalan kolonial. Ia adalah identitas yang berdenyut dalam setiap tarikan napas penduduknya.

Lokasi tepatnya Swiss van Java berada di jalur alternatif Wonosobo-Dieng, terutama di sekitar Desa Sembungan yang disebut desa tertinggi di Jawa, dan kawasan Sikunang, Kejajar, Wonosobo. Jaraknya 17,6 kilometer dari pusat kota Wonosobo dengan waktu tempuh 38 menit.

Destinasi tersebut bukan berupa tempat rekreasi yang memerlukan tiket masuk karena berupa jalan umum membelah pegunungan sempit, sehingga wisatawan bisa mengaksesnya dengan gratis. Di sini pelancong seolah terjebak di sebuah lorong.

Posisi Swiss van Java memang terjepit di antara Gunung Bismo di sebelah barat, serta Gunung Pakuwaja dan Gunung Seroja di sebelah timur. Celah inilah yang menawarkan pemandangan lanskap seperti yang ada di negara Eropa itu.

Gelar Swiss van Java juga bukan karangan generasi milenial dan Gen Z yang memang suka mengeksplorasi tempat indah lalu diunggah di media sosial kemudian menjadi viral. Pengakuan ini berasal dari era kolonial yang kagum dengan lanskap alam kawasan itu.

Saat melewati jalur itu, terutama saat pemandangan cerah, pelancong Eropa terkejut dengan pemandangan tebing, lembah, perbukitan terjal, dan perkebunan warga yang hijau, menciptakan lanskap yang mirip dengan suasana di Swiss.

Apa yang ada? Pemandangan alam di sepanjang jalur tersebut berupa bukit hijau, gunung yang menjulang, kebun sayur, udara pegunungan yang sejuk, dan kontur jalan yang membelah perbukitan mengingatkan banyak pengunjung pada suasana pedesaan di bawah pegunungan Alpen.

Di sini akan terlihat awan-awan rendah seperti tersangkut di puncak Sindoro dan Sumbing, menciptakan siluet yang mengingatkan mereka pada kemegahan Pegunungan Alpen. Namun, Wonosobo menawarkan sesuatu yang lebih mistis: perpaduan antara kemegahan bentang alam Eropa dengan ruh spiritualitas Nusantara yang kental.

Jalur Swiss van Java terbentuk karena rute ini telah menjadi jalur zaman kuno untuk menuju Dataran Tinggi Dieng, yang menjadi tempat pemujaan bagi umat Hindu. Bukan hanya pemandangannya yang memukau, wisatawan juga menikmati sensasi saat berkendara, melintasi lereng gunung dengan tanjakan dan tikungan curam, serta pemandangan alam yang asri dan luas.

Jalan ini sering dilewati wisatawan, pecinta petualangan, dan fotografer karena suasananya yang dramatis, dari lanskap hijau hingga pegunungan tinggi yang terbentang di kejauhan. Sebuah suasana langka yang banyak diidamkan semua orang.

Permadani Hijau

Perjalanan menyusuri fragmen “Swiss” ini paling tepat dimulai dari Desa Tambi, Kecamatan Kejajar. Terletak di lereng utara Gunung Sindoro, perkebunan teh ini adalah perwujudan dari ketenangan absolut. Di sini, barisan tanaman teh tertata sedemikian rupa, mengikuti lekuk bukit layaknya garis-garis sidik jari raksasa yang hijau.

Ketika matahari mulai naik, sisa-sisa embun yang menempel pada pucuk daun memantulkan cahaya serupa jutaan kristal. Para pemetik teh, dengan caping lebar dan jemari yang lincah, memecah kesunyian dengan candaan ringan ketika cahaya datang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.