Prediksi Ngeri Pakar Unpad: Harga BBM Siap Meroket 50 Persen Jika Iran Nekat Blokade Jalur Ekspor Dunia
📅 Senin, 02 Mar 2026, 21:24 WIB | Oleh: Alfred
Doc: ANTARA
JAKARTA - Stabilitas ekonomi global kini berada di titik nadir seiring meningkatnya risiko penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik antara Iran dengan aliansi Amerika Serikat-Israel.
Pakar energi dari Universitas Padjajaran (Unpad), Yayan Satyakti, memprediksi harga minyak dunia dapat melonjak drastis hingga menyentuh level 100 dolar AS per barel dalam waktu singkat jika jalur logistik energi paling strategis di dunia tersebut lumpuh. Situasi ini pun memberikan alarm keras bagi ketahanan APBN 2026 Indonesia yang berpotensi menghadapi pembengkakan subsidi energi secara signifikan.
“Jika ditutup saat ini, besok lusa bisa mencapai langsung 90–100 dolar AS per barel,” ujar Yayan ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Senin.
Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, terletak di antara Oman dan Iran, dan menjadi rute utama perdagangan energi global.
Di selat ini mengalir sekitar seperlima dari total ekspor minyak dunia, termasuk sebagian besar minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, sebelum dikirim ke pasar internasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan demikian, dia menyampaikan Selat Hormuz menjadi titik yang krusial dalam konflik antara Iran dengan Amerika Serikat-Israel.
“Jika Iran menutup Selat Hormuz, harga minyak akan naik menjadi 50 persen,” ucapnya.
Oleh karena itu, Yayan menyampaikan lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) tak dapat dipungkiri bagi Indonesia yang mengimpor minyak dari wilayah Timur Tengah. Tanpa penutupan Selat Hormuz pun, lanjut dia, konflik yang saat ini berlangsung di Timur Tengah bisa meningkatkan harga minyak di kisaran 10–25 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mempertimbangkan lonjakan harga minyak yang melampaui asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, yakni 70 dolar AS per barel, dia mengingatkan pentingnya pemerintah untuk mengantisipasi pembengkakan anggaran.
“Harus ada efisiensi lagi, tetapi apakah pemerintah mau?” ucapnya.
Pada Sabtu (28/2), Israel dan AS melancarkan serangan terhadap Iran. Serangan tersebut merupakan yang kedua dilakukan pemerintahan Presiden AS Donald Trump sejak serangan pertama pada Juni 2025.
Trump menyatakan, pasukan Amerika meluncurkan operasi militer besar di Iran untuk melindungi rakyatnya dengan meniadakan ancaman yang disebutnya berasal dari dugaan pengembangan senjata nuklir oleh Iran.
Amerika Serikat dan Iran sebelumnya telah menggelar tiga putaran perundingan tidak langsung mengenai program nuklir Iran yang dimediasi Oman.
Putaran pertama dan kedua digelar awal bulan ini di Muscat dan Jenewa, berfokus pada pembatasan pengayaan serta persediaan uranium Iran sebagai imbalan pencabutan sanksi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!