Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Inflasi Melonjak, Pemerintah Klaim Harga Tetap Terkendali, Publik Percaya?

📅 Senin, 02 Mar 2026, 22:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Inflasi Melonjak, Pemerintah Klaim Harga Tetap Terkendali, Publik Percaya? Doc: ANTARA FOTO/ Hafidz Mubarak A.
Ket. Pekerja memeriksa meteran listrik di Rusun Benhil 2, Jakarta, Senin (3/3/2025).

JAKARTA – Pemerintah mengklaim tekanan harga tetap terkendali meski inflasi Februari melonjak tajam secara tahunan.

Klaim ini mengindikasikan bahwa kenaikan inflasi dinilai lebih dipengaruhi faktor tertentu—seperti penyesuaian harga yang bersifat administratif atau efek basis rendah—ketimbang lonjakan harga yang meluas dan tidak terkendali.

Namun demikian, tantangan utamanya adalah menjaga persepsi publik dan ekspektasi pasar. Jika lonjakan inflasi berlanjut atau merembet ke komoditas inti, maka tekanan terhadap daya beli dan stabilitas ekonomi bisa meningkat.

Karena itu, konsistensi kebijakan stabilisasi pasokan dan koordinasi fiskal–moneter menjadi kunci agar klaim “terkendali” benar-benar tercermin dalam harga di lapangan.

Kementerian Keuangan menyatakan tekanan harga tetap terkendali meski perekonomian nasional mengalami inflasi sebesar 4,76 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Februari 2026.

"Secara fundamental, tekanan harga tetap terkendali dan diperkirakan akan kembali normal pada Maret 2026," kata Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin.

Febrio menjelaskan inflasi tahunan pada Februari 2026 utamanya dipengaruhi kebijakan diskon listrik pada awal 2025.

Dengan mengeluarkan dampak diskon listrik di awal 2025 itu, kata Febrio, inflasi Februari 2026 diperkirakan hanya 2,59 persen.

Berdasarkan komponennya, inflasi harga diatur pemerintah (administered price) mencapai 12,66 persen (yoy).

Sementara itu, harga pangan bergejolak (volatile food) mencapai 4,64 persen, dipicu gangguan cuaca dan tekanan permintaan menjelang Ramadhan 2026.

Inflasi beras terjaga di level 3,5 persen, sementara beberapa komoditas pangan lain seperti gula pasir, cabai rawit, bawang putih dan cabai merah mengalami deflasi. Inflasi inti tercatat 2,63 persen (yoy), utamanya didorong oleh peningkatan harga emas perhiasan 72,95 persen (yoy).

Dengan mengeluarkan dampak emas, inflasi inti Februari 2026 diperkirakan sebesar 1,4 persen.

Untuk mengendalikan inflasi, Febrio menyatakan pemerintah berkomitmen memastikan harga pangan tetap terjangkau selama periode Ramadhan dan Idul Fitri 2026.

Upaya itu dilakukan melalui penguatan pasokan, kelancaran distribusi, serta pengawasan harga, antara lain melalui program gerakan pangan murah dan fasilitasi distribusi antardaerah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Advertisement
jjroyal-luwak

BINUS University Kembali Gelar Jakarta Game Fest 2026 

30 menit yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Rona
BINUS University Kembali Ge...
Daerah
Pemprov Jawa Timur Akan Sia...
Advertisement
Klasemen Liga Champions: PSG Naik ke Puncak, Tiga Wakil Italia Terpuruk di Luar Zona Playoff

Klasemen Liga Champions: PSG Naik ke Puncak, Tiga Wakil Italia Terpuruk di Luar Zona Playoff

15 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.