Gubernur Jabar Pastikan Jemput Warga Cirebon Korban “Pengantin Pesanan” di China
📅 Minggu, 01 Mar 2026, 04:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
Cirebon - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memastikan pemerintah provinsi (pemprov) akan membantu proses pemulangan Vina (27) seorang warga Kabupaten Cirebon, Jabar, yang diduga menjadi korban praktik “pengantin pesanan” di China.
Dedi mengatakan telah berkomunikasi langsung dengan Pemerintah Kabupaten Cirebon, setelah menerima laporan terkait adanya warga yang mengalami dugaan penjualan orang berkedok pernikahan.
“Hari ini ada warga Cirebon menjadi korban penjualan orang di China, dan saya sudah berkomunikasi. Nanti ditangani dan akan dijemput,” kata Dedi dalam keterangannya di Cirebon, Sabtu (28/2) malam.
Pemprov Jabar, kata dia, akan berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait guna memastikan keselamatan korban serta kelancaran proses pemulangan.
Menurut Dedi, praktik pengantin pesanan kerap memanfaatkan janji uang maupun janji dinikahi dengan mahar tinggi untuk membujuk korban.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia pun meminta pemerintah kabupaten/kota dan aparat desa meningkatkan pengawasan serta edukasi kepada masyarakat, agar tidak mudah tergiur tawaran bekerja atau menikah ke luar negeri tanpa prosedur resmi.
“Banyak sekali perempuan Jabar ini yang mudah terbujuk oleh janji uang dan janji dinikahi dengan mahar yang mahal,” ujarnya menyayangkan.
Sementara itu, Asep Maulana Hasanudin, kuasa hukum keluarga Vina, menyebutkan korban yang merupakan warga Desa Gombang, Cirebon, menghadapi sejumlah persoalan, termasuk kekerasan fisik saat berada di China.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia mengatakan peristiwa itu bermula saat Vina bekerja di Jakarta dan berkenalan dengan seorang warga negara asing (WNA) asal China, yang kemudian mengarah pada rencana pernikahan.
“Awalnya korban bekerja di Jakarta. Tanpa sepengetahuannya dia difoto oleh WNA China, lalu dari situ komunikasi mulai terjalin,” katanya.
Ia menuturkan pihak pria bersama sejumlah orang, sempat beberapa kali mendatangi kediaman keluarga Vina di Cirebon hingga menyerahkan mahar pada awal Agustus 2025.
Setelah di China, kata dia, Vina mendapati kondisi yang tidak sesuai dengan informasi awal terkait pernikahan tersebut.
Ia menyampaikan pula saat korban ingin kembali ke Indonesia, keluarga dari pihak suami meminta mahar pernikahan dikembalikan dengan nilai cukup tinggi.
Selain itu, ia mengungkapkan korban diduga diarahkan menandatangani sejumlah dokumen yang kemudian tercatat sebagai persetujuan pernikahan secara hukum di China sehingga menyulitkannya untuk pulang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!