Sesar Lembang: Tiga Zona Kerentanan dari Hulu ke Hilir
📅 Kamis, 26 Feb 2026, 22:07 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
Bandung - Sesar Lembang yang membentang sekitar 29 kilometer di utara Kota Bandung, bukanlah jalur patahan tunggal dengan risiko homogen.
Penyelidikan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terbaru mengungkap bahwa sesar ini terbagi menjadi tiga segmen dengan karakteristik geologi, aktivitas, dan potensi gempa yang berbeda, sehingga menuntut strategi mitigasi spesifik dan terukur.
Sukahar Eka Adi Saputra, Penyelidik Bumi Ahli Madya Badan Geologi, menjelaskan bahwa setiap segmentasi tersebut memiliki hubungan erat dengan sistem vulkanik di Bandung.
“Secara keseluruhan, Sesar Lembang merupakan sesar aktif dengan segmentasi yang jelas dan memiliki hubungan erat dengan sistem vulkanik di wilayah Bandung," ujarnya, Kamis (26/2).
Dia juga menyebut bahwa arah tegasan dominan membentang dari timur laut hingga barat daya serta potensi gempa maksimum diperkirakan mencapai magnitudo 6,5 hingga 7 apabila seluruh segmen bergerak bersamaan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berdasarkan paleoseismologi (cabang ilmu geologi yang mempelajari gempa bumi purba), laju geser sesar tersebut berkisar 1,95 hingga 3,45 milimeter per tahun, dengan periode ulang gempa 170 hingga 670 tahun.
“Terdapat indikasi gempa besar pernah terjadi pada abad ke-15,” kata Sukahar.
Data ini menegaskan perlunya mitigasi yang disesuaikan dengan karakter masing-masing segmen, bukan pendekatan tunggal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Segmen barat dan offset signifikan
Segmen barat, membentang dari Sungai Cimeta hingga Ngamprah dan Cibaligo, memperlihatkan pola kekar pada lava, kontak lava-breksi, serta manifestasi mata air panas.
Hidayat, Penyelidik Bumi Ahli Muda Badan Geologi, mengatakan bahwa penampang barat terlihat konsisten dengan distribusi gempa mikro yang menunjukkan variasi karakter struktur yang masih aktif.
“Dari penampang barat terlihat offset yang jelas dan konsisten dengan distribusi gempa mikro. Hal ini menunjukkan adanya variasi karakter struktur yang masih aktif secara geologis,” jelasnya.
Peneliti menggunakan alat Ground Penetrating Radar (GPR) untuk melihat lapisan tanah di bawah permukaan dan hasil pemindaian menemukan lapisan yang tampak bergeser atau tidak sejajar (offset)
Selain itu, survei magnetik yang telah diolah menunjukkan bagian utara sesar memiliki anomali magnetik rendah, yang menandakan perbedaan kondisi batuan di wilayah tersebut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!