Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pengamat: Impor Etanol dari AS Perlu Dicermati Hati-hati, Dampaknya Bisa Pengaruhi Ketahanan Energi Nasional

📅 Rabu, 25 Feb 2026, 17:05 WIB | Oleh:
Pengamat: Impor Etanol dari AS Perlu Dicermati Hati-hati, Dampaknya Bisa Pengaruhi Ketahanan Energi Nasional Doc: antara foto
Ket. Target penggunaan campuran etanol dalam bbm.

JAKARTA - Managing Director Energy Shift Institute Putra Adhiguna menilai klausul impor etanol dalam dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) perlu dicermati secara hati-hati, terutama terkait dampaknya terhadap ketahanan energi dan beban ekonomi nasional.

Dalam perjanjian itu, Indonesia disebut harus memastikan impor etanol asal AS melebihi 1.000 metrik ton per tahun. Indonesia juga tidak diperkenankan mengadopsi kebijakan yang dapat menghambat masuknya bioetanol asal AS.

Selain itu, Putra mengatakan, impor pada dasarnya tidak menjadi persoalan apabila hanya menggantikan volume impor yang sudah ada dan tetap kompetitif secara harga.

Namun, ia mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak justru mendorong pertumbuhan permintaan baru yang pada akhirnya hanya diisi oleh produk impor.

“Kalau hanya mengganti impor yang sudah ada, secara esensi tidak masalah selama kompetitif. Tapi jangan sampai terjadi pertumbuhan demand yang kemudian seluruhnya dipenuhi oleh impor,” ujarnya di Jakarta, Rabu (25/2).

Terkait urgensi impor, Putra mempertanyakan apakah langkah tersebut benar-benar diperlukan, mengingat pemerintah sebelumnya sempat menyampaikan niat untuk menghentikan impor etanol.

Ia mewaspadai jika harga etanol impor lebih tinggi, beban ekonomi justru bisa semakin besar.

“Dukungan AS mendorong bioetanol tidak sejalan dengan niat mengurangi impor, malah bebannya bisa semakin besar untuk ekonomi karena harga etanol yang lebih tinggi,” tutur dia.

Selain itu, Indonesia diminta menjalankan kebijakan pencampuran bioetanol dalam bahan bakar transportasi hingga 5 persen (E5) pada 2028 dan 10 persen (E10) pada 2030, serta mengupayakan implementasi hingga 20 persen (E20) dengan mempertimbangkan kesiapan pasokan dan infrastruktur.

Adapun diberitakan sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah membuka peluang impor etanol, termasuk dari AS, sebagai bagian dari pengembangan energi bersih.

“Kita akan campur (bensin) dengan etanol, mandatory, tujuannya sebenarnya adalah bagaimana menciptakan peluang usaha baru yang ada di Indonesia,” ujar Bahlil dalam jumpa pers yang digelar secara virtual, dipantau dari Jakarta, Jumat (20/2).

Lebih lanjut, ia mengatakan opsi impor etanol terbuka selama produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.

“Namun, sampai dengan produksi kita bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri, maka ruang untuk kita melakukan impor boleh saja,” kata Bahlil.

Ia mengatakan peluang impor tersebut berjalan secara paralel dengan upaya peningkatan produksi energi dalam negeri.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Rupiah Tembus Rp18.000 per ...
Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
SBY: Kepercayaan Publik Jad...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.