Budaya Sumedang Bercerita, di antara senja Ramadan dan tarawangsa
📅 Minggu, 22 Feb 2026, 15:51 WIB | Oleh: SujarAkses ke lokasi pun semakin mudah melalui Tol Cisumdawu, hanya sekitar 20 menit dari pintu Tol Pamulihan, sehingga warga dari berbagai kecamatan dapat dengan nyaman mengikuti kegiatan.
Dengan demikian, tarawangsa dan seni tradisional lain bisa lebih dikenal luas, tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai warisan budaya yang hidup.
Identitas Sumedang sebagai Puseur Budaya Sunda ditegaskan melalui Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2021.
Hingga 2025, Sumedang memiliki 15 Warisan Budaya Tak Benda yang diakui nasional maupun provinsi, termasuk tarawangsa, Ngalaksa Rancakalong, Goong Renteng, dan Seni Ajeng Kasumedangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pelestarian juga menyasar situs fisik, seperti Benteng Palasari dan Keraton Sumedang Larang, yang sedang direvitalisasi sebagai bagian penguatan narasi sejarah Sunda.
Selaras dengan visi nasional
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengemukakan potensi daerah Sumedang dan Keraton Sumedang Larang menjadi destinasi wisata budaya unggul di wilayah Provinsi Jawa Barat.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Sumedang sangat berpotensi untuk menjadi pusat kebudayaan Sunda. Nantinya, Sumedang ini jangan jadi tempat persinggahan saja, tapi harus benar-benar menjadi destinasi utama," katanya
Menteri Kebudayaan juga mengungkapkan bahwa saat ini baru terdapat 228 cagar budaya yang terdaftar secara resmi, dan pemerintah menargetkan penambahan puluhan lagi dalam waktu dekat.
Selain itu, Indonesia telah memiliki 2.213 warisan budaya tak benda yang diakui secara nasional, dengan 16 di antaranya telah terdaftar di UNESCO, seperti wayang, batik, angklung, pantun, tari saman, pencak silat, gamelan, jamu, hingga reog Ponorogo.
Tahun ini, sebanyak 550 tambahan warisan budaya tak benda akan segera diumumkan, termasuk 60 di antaranya berasal dari Jawa Barat.
Geotheater bukan sekadar panggung, melainkan simbol keberlanjutan budaya yang menuntun masyarakat untuk menghargai masa lalu, menikmati saat ini, dan menatap masa depan dengan bangga atas identitasnya.
Geotheater menjadi saksi hidup bagaimana Sumedang meneguhkan diri sebagai Puseur Budaya Sunda, tempat di mana seni, iman, dan tradisi berpadu, menciptakan ruang bagi setiap warga untuk merasakan kedekatan dengan akar budaya mereka sekaligus menghidupkan nilai-nilai yang melekat di hati generasi muda.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!