Risalah The Fed Picu Guncangan, Rupiah Hari Ini Terseret Melemah!
📅 Kamis, 19 Feb 2026, 17:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ Muhammad Adimaja
JAKARTA – Pelemahan rupiah mencerminkan sensitivitas pasar domestik terhadap dinamika kebijakan moneter global, khususnya setelah rilis risalah pertemuan Federal Reserve yang menyoroti perbedaan pandangan pejabatnya terkait kelanjutan kenaikan suku bunga.
Perdebatan tersebut memicu ketidakpastian arah kebijakan, mendorong penguatan dolar AS dan memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dalam konteks ini, tekanan terhadap rupiah lebih dipengaruhi sentimen eksternal ketimbang fundamental domestik, meski stabilitas nilai tukar tetap bergantung pada respons kebijakan moneter dan ketahanan sektor eksternal nasional.
Nilai tukar rupiah pada penutupan pasar uang di Jakarta, Kamis (19/2), bergerak melemah 10 poin atau 0,06 persen menjadi Rp16.894 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.884 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi rilis risalah pertemuan Federal Reserve (The Fed) pada bulan Januari.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Risalah dari pertemuan kebijakan terbaru Federal Reserve menyoroti perbedaan pendapat di antara para pejabat mengenai apakah kenaikan suku bunga lebih lanjut masih diperlukan,” ungkapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (19/2).
Secara umum, para pembuat kebijakan di The Fed sepakat bahwa risiko inflasi tetap cenderung ke atas, tetapi berbeda pendapat tentang seberapa ketat kebijakan yang harus diterapkan dan berapa lama suku bunga harus tetap tinggi.
Untuk para pedagang sendiri telah menurunkan ekspektasi mereka terkait penurunan suku bunga Fed tahun ini, meskipun kontrak berjangka dana Fed masih menunjukkan penurunan kemungkinan terjadi pada bulan Juni.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Investor sekarang menunggu data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS yang akan dirilis pada hari Jumat (20/2), indikator inflasi pilihan Fed, untuk mendapatkan arahan yang lebih jelas tentang kebijakan moneter,” ujar Ibrahim.
Sentimen lain berasal dari ketegangan yang terus berlanjut antara Iran dengan AS. Dalam konteks ini, Presiden AS Donald Trump mengancam penggunaan kekuatan militer apabila diplomasi tak berhasil menghentikan program nuklir Iran.
“Peningkatan aktivitas militer dan angkatan laut di Teluk telah memperkuat persepsi pasar tentang kerentanan pasokan,” kata dia.
Pada saat yang sama, lanjutnya, sedikit kemajuan dalam upaya perdamaian Rusia-Ukraina memperkuat risiko keamanan yang lebih luas dan harapan akan pelonggaran sanksi terhadap ekspor energi Rusia memudar.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp16.925 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.884 per dolar AS.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!