Ini 6 Versi Niat Puasa Ramadhan Sesuai Kitab Mazhab Syafi'i, Jangan Sampai Salah!
📅 Rabu, 18 Feb 2026, 18:35 WIB | Oleh: Paundra Zakirullohنَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هٰذِهِ السَّنَةَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin 'an adā'i fardhi syahri Ramadhāna hādzihis sanata lillāhi ta'ālā
Artinya: "Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta'ala."
Kata "Ramadhana" tetap dibaca khafadh dengan tanda fathah sebagai mudhaf ilaihi. Sementara "sanata" diakhiri fathah sebagai tanda nashab karena berfungsi sebagai zharaf.
4. Asnal Mathalib (Versi Kedua)
Sebaiknya Anda baca juga:
نَوَيْتُ صَوْمَ الْغَدِ مِنْ هٰذِهِ السَّنَةِ عَنْ فَرْضِ رَمَضَانَ
Nawaitu shaumal ghadi min hādzihis sanati 'an fardhi Ramadhāna
Artinya: "Aku berniat puasa esok hari pada tahun ini perihal kewajiban Ramadhan."
Redaksi ini lebih ringkas, tetapi tetap mencakup unsur waktu dan penegasan kewajiban puasa Ramadhan. Struktur kalimatnya berbeda, namun substansi niatnya tetap sama.
Sebaiknya Anda baca juga:
5. I’anatut Thalibin (Versi Pertama)
نَوَيْتُ صَوْمَ رَمَضَانَ
Nawaitu shauma Ramadhāna
Artinya: "Aku berniat puasa bulan Ramadhan."
Versi ini termasuk paling singkat dan sederhana. Meski pendek, redaksi tersebut tetap sah selama diniatkan pada malam hari sesuai ketentuan Mazhab Syafi'i.
6. I’anatut Thalibin (Versi Kedua)
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ/عَنْ رَمَضَانَ
Nawaitu shauma ghadin min/‘an Ramadhāna
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!