Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Studi: Perubahan Iklim Picu Infeksi Serius di Wilayah Banjir

3 Selasa, 10 Feb 2026, 08:14 WIB | Oleh: Tim Penulis
Studi: Perubahan Iklim Picu Infeksi Serius di Wilayah Banjir Studi: Perubahan Iklim Picu Infeksi Serius di Wilayah Banjir Doc: ANTARA
Ket. Warga bermain bersama keluarganya saat banjir di Jalan Kapten Tendean, Mampang Prapatan, Jakarta, Sabtu (20/2/2021).

SYDNEY - Penelitian baru memperingatkan bahwa meningkatnya jumlah badai dan banjir yang terkait dengan perubahan iklim meningkatkan risiko leptospirosis, infeksi serius pada manusia.

Penelitian yang dipimpin University of New England (UNE) Australia itu merekomendasikan dilakukannya pengujian terpadu terhadap masyarakat untuk mendeteksi infeksi zoonosis leptospirosis, peningkatan kewaspadaan di wilayah yang jauh di luar kawasan tropis di utara, serta penelitian lanjutan yang mendesak, demikian pernyataan UNE.

Disebutkan bahwa belum ada vaksin bagi manusia untuk leptospirosis, penyakit bakteri yang meningkat secara global akibat banjir dan cuaca hangat. Wabahnya pun semakin intensif di seluruh dunia, dengan subtipe Leptospira yang terus berkembang.

Pekerja pertanian, dokter hewan, petugas penanganan bangkai hewan, serta penggemar rekreasi air tawar menghadapi risiko tertinggi, menurut para penulis studi yang dipublikasikan dalam Australian and New Zealand Journal of Public Health (ANZJPH).

Penulis utama associate professor Jacqueline Epps, dokter umum pedesaan dari School of Rural Medicine UNE, mengatakan bahwa wabah kini muncul di berbagai wilayah Australia, terkait dengan peningkatan curah hujan, badai, banjir, dan suhu yang lebih hangat. Sebelumnya, wabah semacam ini jarang terjadi di luar zona kasus tinggi di Negara Bagian Queensland.

"Bakteri yang ditemukan dalam feses dan urine pembawa penyakit bertahan lebih lama di tanah dan lumpur yang kondisinya lebih lembap serta hangat. Banjir diduga membawa patogen infeksius dalam jarak jauh serta mencemari sumber air," ujar Epps, Senin (9/2).

Gejala leptospirosis menyerupai flu atau COVID-19, sehingga banyak kasus tidak terdiagnosis atau salah diagnosis, kata para peneliti, seraya menambahkan bahwa diagnosis dini yang akurat dapat mencegah memburuknya gejala yang dapat berujung pada perawatan intensif untuk kasus gagal organ, meningitis, atau kematian pada 10 persen kasus berat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Polri Mutasi 264 Perwira Ti...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Mabes Polri Belum Beri Penjelasan Isu Penangkapan Jenderal dan Petinggi Polri lainnya   

Mabes Polri Belum Beri Penjelasan Isu Penangkapan Jenderal dan Petinggi Polri lainnya  

03 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.