Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Menata Marwah Kawasan Gunung Jati Cirebon

📅 Rabu, 01 Jul 2026, 15:56 WIB | Oleh:
Menata Marwah Kawasan Gunung Jati Cirebon Doc: ANTARA/Fathnur Rohman
Ket. Kawasan kompleks Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat.

CIREBON --  Pada Sabtu (27/6) siang, satu per satu bus pariwisata mulai memasuki kawasan Makam Sunan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Rombongan peziarah turun bergantian, lalu melangkah menuju gerbang kompleks makam. Sebagian singgah sejenak untuk membeli bunga tabur atau tasbih, sementara yang lain memilih langsung masuk untuk memanjatkan doa.

Beberapa waktu terakhir kawasan itu lebih ramai dari biasanya. Pedagang sibuk melayani pembeli, kendaraan terus keluar masuk area parkir, sementara peziarah datang silih berganti dari berbagai daerah.

Di tengah keramaian itu, ada satu perubahan yang mudah dirasakan. Jalan menuju kompleks makam kini terasa lebih lapang.

Peziarah pun dapat berjalan tanpa harus berkali-kali berhenti karena dihampiri orang yang meminta sedekah. Pemandangan yang dulu begitu lekat dengan kawasan wisata religi itu kini mulai berubah.

Aris (47), peziarah asal Semarang, menjadi salah satu yang merasakan perubahan tersebut. Bersama istri dan kedua anaknya, ia kembali berziarah ke Gunung Jati setelah sekitar empat tahun tidak datang ke Cirebon.

Sepanjang perjalanan menuju makam, Aris beberapa kali menoleh ke kanan dan kiri. Ia seperti memastikan tidak ada yang terlewat dari ingatannya.

“Rasanya berbeda sekali. Dulu baru turun dari bus sudah banyak yang menghampiri minta sedekah. Sekarang kami bisa jalan sampai ke gerbang dengan tenang,” katanya kepada Antara.

Bagi Aris, kenyamanan itu membuat tujuan utama kedatangannya tidak terganggu. Ia dan keluarganya bisa lebih khusyuk berziarah tanpa terus-menerus mengalihkan perhatian.

Perubahan itu pula yang membuat mereka memutuskan tidak langsung pulang ke Semarang. Seusai berziarah, Aris berencana mengajak keluarganya menikmati kuliner khas Cirebon dan bermalam sebelum kembali keesokan harinya.

Kesan serupa dirasakan Ikhwan (34), peziarah asal Tegal. Sebelum berangkat, ia sempat mendengar cerita dari kerabat yang pernah datang ke Gunung Jati beberapa tahun lalu. Mereka menggambarkan kawasan makam sebagai tempat yang selalu dipenuhi pengemis.

Cerita itu membuat Ikhwan sempat menyiapkan uang receh di saku. Namun, sesampainya di lokasi, pemandangan yang ia temui justru berbeda.

“Yang saya lihat sekarang rapi. Orang datang bisa langsung berziarah tanpa merasa sungkan atau terus dihampiri. Suasananya jadi lebih tenang,” ujarnya.

Ikhwan menyampaikan, perubahan tersebut bukan sekadar membuat kawasan makam terlihat lebih tertib.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Ekonomi
Jasa Marga Curi Perhatian d...

Persebaya Tak Remehkan PSS Sleman

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Persebaya Tak Remehkan PSS ...
Advertisement
Kabar Baik yang Melegakan! Asap Karhutla Mulai Menjauh dari Jabodetabek, Ini Penjelasan BMKG

Kabar Baik yang Melegakan! Asap Karhutla Mulai Menjauh dari Jabodetabek, Ini Penjelasan BMKG

17 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.