Pelaku Industri Pariwisata Perlu Siapkan Strategi Mitigasi Krisis untuk Jaga Kepercayaan Wisatawan
📅 Selasa, 10 Feb 2026, 07:40 WIB | Oleh: Sriyono
Doc: antara foto
JAKARTA - Pelaku industri pariwisata perlu menyiapkan strategi mitigasi krisis untuk menghadapi gangguan transportasi massal yang dapat menurunkan kepuasan dan kepercayaan wisatawan, menurut pengamat pariwisata Universitas Andalas Sari Lenggogeni.
“Ini termasuk krisis buatan manusia. Dampak negatif harus segera diperbaiki melalui pemulihan krisis, meningkatkan kepercayaan, kebahagiaan, dan pengalaman mereka agar perjalanan tetap menyenangkan,” kata Sari ketika dihubungi Senin (9/2).
Sari menjelaskan gangguan transportasi, seperti keterlambatan atau pembatalan penerbangan, dapat menimbulkan risiko nyata bagi wisatawan.
Mereka berpotensi kehilangan malam menginap, agenda tur, atau pengalaman wisata lainnya. Kondisi ini memengaruhi psikologi wisatawan sehingga keputusan perjalanan berikutnya bisa bergeser, tertunda, atau dibatalkan.
Sebelumnya, laporan media perjalanan Travel and Tour World mencatat sejumlah keterlambatan dan pembatalan penerbangan di kawasan Asia, termasuk Bandara Soekarno-Hatta. Meski demikian, pihak bandara Soetta menegaskan operasional penerbangan tetap berjalan lancar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam menghadapi risiko ini, Sari menyarankan pelaku industri pariwisata melakukan sejumlah langkah mitigasi. Pertama, komunikasi langsung dan sistem penanganan gangguan secara cepat sangat penting.
Kedua, penyediaan fasilitas tambahan bagi wisatawan yang terdampak, seperti hotel, makanan, atau pengembalian dana. Strategi destinasi juga harus disiapkan, misalnya dengan sistem cadangan wisata pintar.
Selain itu, mitigasi sebelum krisis terjadi juga diperlukan. Contohnya fleksibilitas check-in hotel, paket khusus untuk kedatangan terlambat, dan asuransi yang memadai.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pemulihan pengalaman wisatawan bisa dilakukan melalui kegiatan pengganti seperti wisata malam, panduan wisata digital, atau aktivitas tambahan agar kepuasan tetap terjaga.
Sari menekankan pentingnya komunikasi risiko destinasi melalui berbagai saluran informasi dan papan informasi perjalanan secara langsung, agar wisatawan selalu mendapat informasi akurat dan tidak merasa terkecoh.
“Industri pariwisata tidak hanya menjaga ekonomi, tetapi juga membangun kepercayaan dari luar terhadap Indonesia. Peran ini penting untuk reputasi negara, baik antarwarga maupun antara pemerintah dan masyarakat,” kata Sari.
Langkah-langkah mitigasi ini dinilai krusial agar wisatawan tetap memiliki pengalaman positif meski menghadapi gangguan transportasi, sekaligus memperkuat ketahanan dan citra sektor pariwisata Indonesia di mata dunia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!