Bengkulu Diminta Fokus Ekonomi Biru dan Hijau, Sinyal Arah Baru Investasi Daerah?
📅 Senin, 09 Feb 2026, 19:35 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ Boyke Ledy Watra
BENGKULU – Pengembangan ekonomi biru dan hijau menjadi strategi krusial untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan sekaligus menjaga daya dukung lingkungan.
Optimalisasi sektor kelautan, perikanan, energi terbarukan, dan ekonomi rendah karbon tidak hanya membuka sumber pertumbuhan baru, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan iklim.
Namun, keberhasilannya bergantung pada konsistensi kebijakan, kepastian investasi, serta tata kelola yang mampu menyeimbangkan eksploitasi sumber daya dengan keberlanjutan ekosistem.
Bank Indonesia (BI) menyebutkan Provinsi Bengkulu harus fokus pada pengembangan ekonomi biru dan ekonomi hijau sebagai strategi utama untuk menarik investasi ke Bengkulu.
"Kita harus paham apa yang diinginkan investor. Kami melihat apa yang menjadi keunggulan Bengkulu, itu yang kemudian diangkat dan didorong," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat di Bengkulu, Senin (9/2).
Sebaiknya Anda baca juga:
Wahyu Yuwana menjelaskan Bengkulu tidak perlu memulai pembangunan ekonomi dari nol, karena telah memiliki sejumlah sektor unggulan.
Daerah ini memiliki kekuatan pada komoditas sektor pertanian dan perkebunan, serta potensi ekonomi kelautan, karena garis pantai yang panjang sekitar 525 kilometer menghadap langsung ke Samudera Hindia.
"Apa yang kita tanam bisa kita ambil nilai tambahnya. Kemudian ekonomi biru, kekayaan laut dan garis pantai termasuk sektor wisatanya merupakan kekuatan Bengkulu, apalagi Bengkulu ini dekat dengan Jakarta hanya sekitar 50 menit saja menggunakan penerbangan," kata dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut dia, ekonomi biru dan ekonomi hijau menjadi dua sektor yang paling potensial untuk terus dikembangkan. Penguatan sektor tersebut dinilai sejalan dengan tren investasi yang kini mengarah pada pembangunan berkelanjutan.
Namun pengembangan sektor unggulan itu tetap membutuhkan dukungan infrastruktur. Menurut dia, infrastruktur diperlukan agar hasil produksi memiliki nilai tambah melalui proses pengolahan di dalam daerah.
Menurut dia, kawasan industri menjadi salah satu instrumen penting untuk mempercepat hilirisasi. Selain itu, revitalisasi pelabuhan juga diperlukan untuk mendukung kelancaran arus barang.
Wahyu menilai integrasi kawasan industri dengan pelabuhan menjadi kunci agar investasi dapat tumbuh optimal. Investor membutuhkan kemudahan dalam memasukkan kebutuhan produksi dan mendistribusikan hasil produksinya.
Bank Indonesia pun menilai komitmen pemerintah provinsi serta kabupaten dan kota cukup kuat untuk mempercepat pengembangan sektor unggulan tersebut. Sinergi antar lembaga diharapkan mampu menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif.
Untuk menciptakan sinergi tersebut, Bank Indonesia pun menggelar Regional Investment Relations Unit (RIRU) sebagai wadah bertemunya pemerintah provinsi, kabupaten dan kota serta pihak terkait dalam percepatan pengembangan investasi daerah
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!