Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Di Ambang Kepunahan, Pesut Mahakam Tinggal Tersisa 66 Ekor

📅 Minggu, 08 Feb 2026, 23:14 WIB | Oleh:
Di Ambang Kepunahan, Pesut Mahakam Tinggal Tersisa 66 Ekor Doc: ANTARA/Sugeng Hendratno

KUTAI KARTANEGARA - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) tengah menyusun langkah darurat guna menyelamatkan populasi Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) yang kini berada dalam fase sangat kritis, dengan jumlah individu yang terus menyusut drastis.

Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Rasio Ridho Sani, di Kutai Kartanegara, Minggu, menegaskan pentingnya tindakan nyata untuk mencegah kepunahan satwa dilindungi ini.

Berdasarkan data pemantauan terbaru hingga awal Februari 2026, populasi mamalia air tawar endemik Sungai Mahakam tersebut diperkirakan hanya tersisa 66 ekor di habitat alaminya.

"Pemerintah harus bergerak serius. Kondisi pesut kita sangat memprihatinkan karena populasinya kini hanya tinggal sekitar 66 ekor saja," ujar Rasio usai melakukan peninjauan l lapangan bersama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ke kawasan konservasi pesut di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Kunjungan strategis ini juga melibatkan berbagai pihak, di antaranya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalimantan Timur, Sekretariat Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dan Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI).

Dalam kesempatan itu, KLH juga secara resmi menetapkan dua desa di Kutai Kartanegara sebagai Desa Konservasi Pesut Mahakam untuk memperkuat perlindungan berbasis masyarakat.

Rasio menjelaskan bahwa penurunan populasi pesut dipicu oleh kerusakan habitat yang masif akibat tumpang tindihnya aktivitas manusia dan industri.

Beberapa ancaman utama yang diidentifikasi meliputi, alih fungsi lahan dan pembukaan lahan di area hulu, aktivitas pertambangan batu bara yang berdampak pada kualitas air dan padatnya lalu lintas transportasi sungai, terutama ponton batu bara yang diduga mengganggu navigasi dan habitat kritis pesut.

“Kita harus mengantisipasi berbagai ancaman ini secara komprehensif, baik yang bersumber dari kegiatan korporasi maupun aktivitas masyarakat di sepanjang aliran Sungai Mahakam,” tegasnya.

KLH menekankan bahwa penyelamatan pesut memerlukan kolaborasi lintas sektor bersama KKP, pemerintah daerah, dan otoritas transportasi.

Tujuannya adalah memastikan aktivitas ekonomi di sungai tetap berjalan tanpa mengorbankan ekosistem pesut.

Pemerintah juga berjanji akan mengambil langkah tegas terhadap pihak-pihak yang terbukti merusak habitat satwa ini.

"Kami akan mengambil langkah hukum yang tegas, namun di sisi lain tetap mendorong kerja sama agar kegiatan ekonomi tidak mengganggu habitat kritis pesut," jelas Rasio. Ant

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Kasus yang Melingkungi Proy...
Daerah
Polres Kerinci Bahas Distri...
Olahraga
Sabalengka di Luar Dugaan D...

Tim Piala Dunia, Maroko Dapat Menjadi Kuda Hitam

32 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Tim Piala Dunia, Maroko Dap...
Olahraga
Laga Generasi Baru Menuju F...

Tim Piala Dunia, Mampukan Brasil Juara Keenam Kalinya?

44 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Tim Piala Dunia, Mampukan B...
Nasional
Dongkrak Kedatangan Turis, ...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.