Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Mengenal Batik Gandaria Jakarta Selatan

📅 Selasa, 28 Okt 2025, 01:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Mengenal Batik Gandaria  Jakarta Selatan Doc: ANTARA/Lia Wanadriani Santosa
Ket. Perajin batik Betawi, Nur Yaom, menunjukkan karyanya.

B

ATIK dimiliki banyak daerah, termasuk Jakarta (Betawi). Salah satu “sentra” batik Jakarta adalah Gandaria, sebuah kelurahan di Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan. Kawasan ini dulu banyak ditumbuhi pohon gandaria (Bouea macrophylla Griff). Nama pohon tropis tersebut diabadikan sebagai nama wilayah. Namun itu masa lalu, karena sekarang tak lagi banyak pohon gandaria di sini. Hanya tersisa Gandaria sebagai nama wilayah.

Walau begitu, ada seorang perajin batik yang tinggal di sini. Dia menghidupkan motif-motif batik khas Jakarta, khususnya buah gandaria di bawah label Batik Gandaria. Belakangan, usaha batik ini memotivasi pemangku kepentingan setempat untuk membudidayakan gandaria.

Nur Yaom, nama perajin batik itu adalah wanita asli Betawi yang sebenarnya sudah berusia senja. Dia sudah mengenal dunia batik sejak kecil karena ibunya seorang perajin batik. Berbekal pengetahuan yang diwariskan ibu serta pelatihan, Nur memulai usaha batik tulis dan cap tahun 2012. Dia mencoba peruntungan mengangkat motif-motif khas Betawi seperti tanjidor dan ondel-ondel. Ada juga kuliner seperti kembang goyang, selendang mayang, dan bir pletok.

Semakin lama motif-motifnya dalam kain batik bertambah seperti flora tapak dara, nona makan sirih, bunga telang, hingga buah gandaria. Motif buah gandaria punya arti khusus bagi Nur karena mengingatkannya kenangan saat tempat tinggalnya masih ditumbuhi banyak pohon gandaria.

Bila dihitung, total motif batiknya ada sekitar 50 jenis. Hasratnya masih menggebu untuk terus menggambar motif-motif khas Jakarta lainnya. Setiap tiga bulan, dia berharap bisa menggambar motif baru. Dalam satu kain batik, dia menggambar lebih dari satu motif, namun tetap mengedepankan rumus padu padan fesyen sehingga tetap sedap dipandang.

Motif ondel-ondel, misalnya, dipadankan dengan motif tanjidor. Keduanya sama-sama budaya Jakarta dan sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Nur kemudian merancang berbagai produk fesyen dari kain batik karyanya seperti vest (rompi atau pakaian tanpa lengan) reversibel alias bolak-balik dan outer (luaran baju) berlengan.

Apabila ada sisa kain, dia kreasikan menjadi aksesoris seperti gantungan kunci, dompet sehingga tak ada kain yang terbuang. Batik Betawi sebenarnya identik dengan warna-warna cerah. Ini merupakan ciri khas batik pesisiran pantai utara Jawa seperti Pekalongan, Cirebon, Lasem, Tuban, dan Madura. Motif batik pun pun biasanya bebas, natural, dan sering bergambar flora dan fauna.

Walau begitu, tak ada larangan keluar dari ciri tersebut. Saat ini, batik Betawi karya Nur mengikuti tren warna dan permintaan masyarakat. Karenanya, warna-warna kalem dihadirkan, begitu juga dengan variasi mode yang mengikuti selera pasar. Namun, dia tetap mempertahankan kekayaan Jakarta, utamanya, gandaria.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Nasional
Pemerintah Perkuat SDM Mela...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.