Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

BRIN Sebut Indonesia Berisiko Jadi Hotspot Virus Nipah

📅 Kamis, 05 Feb 2026, 03:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
BRIN Sebut Indonesia Berisiko  Jadi Hotspot Virus Nipah Doc: Antara
Ket. Tangkapan layar - presentasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait virus Nipah dalam "Mengantisipasi Penyebaran Virus Nipah di Indonesia - FDD12 - Edisi 264" di Jakarta, Rabu (4/2/2026).

JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan akan perlunya pengembangan upaya pencegahan dan penanggulangan virus Nipah lebih jauh, sebab Indonesia berisiko menjadi hotspot virus tersebut, karena keanekaragaman hayati yang besar, terutama jenis kelelawar buah yang banyak.

“Kita merupakan negara dengan megabiodiversity, yang mempunyai keanekaragaman yang sangat tinggi, tapi tentunya ini mempunyai salah satu potensi risiko dan memiliki distribusi luas terkait dengan fruit bat ini, yang merupakan reservoir alami dari virus Nipah,” kata Kepala Organisasi Riset Kesehatan/Peneliti Ahli Utama Virologi BRIN Ni Luh Putu Indi Dharmayanti, di Jakarta, Rabu (4/2).

Ia mengatakan terdapat keragaman genetik virus Nipah (NiV), yakni NiV-Malaysia (M) dan NiV Bangladesh (B). Berdasarkan keparahan, NiV-B memiliki tingkat kematian 75 persen, dan NiV-M memiliki tingkat kematian 40 persen.

Kemudian temuan eksperimental, lanjutnya, menunjukkan replikasi NiV-B lebih lambat, tetapi proses shedding atau pelepasan partikel virus dari orang atau binatang terinfeksi, lebih cepat.

Sejumlah perbedaan klinis dari kedua jenis virus, kata dia, NiV-B sering menimbulkan penyakit pernapasan dan ensepalitis, serta berkaitan dengan penularan antar-manusia, sementara NiV-M sering menyebabkan ensefalitis.

Menurutnya, berbagai temuan ini menunjukkan bahwa keberagaman genetik virus Nipah mempengaruhi virulensi, transmisi, serta respon imun.

Dia menyebutkan per 2024 kasus virus Nipah yang dilaporkan secara global ada 754, dengan kematian sekitar 435 kasus, sehingga rata-rata rasio fatalitas yakni 58 persen.

Indi menjelaskan,reservoir utama virus tersebut yakni kelelawar buah, dengan babi sebagai inang perantara. Babi, katanya, menjadi salah satu penyebab utama dalam wabah Nipah di Malaysia.

Sejumlah hewan domestik lain yang dapat terpapar, katanya, yakni anjing, dan di Bangladesh dilaporkan sapi dan kambing juga terdampak.

Sementara itu, Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (Barantin) Banten memperketat pengawasan terhadap aktivitas lalu lintas pengiriman hewan yang berasal dari India melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) Tangerang.

Kepala Barantin Banten Duma Sari Margaretha Harianja di Tangerang, Rabu, mengatakan upaya pengetatan pengawasan ini dilakukan sebagai antisipasi masuknya virus Nipah ke Indonesia dari India. Ant/S-2

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Merubah Ruang Publik Menjadi Panggung Seni dan Budaya
    Preview komentar:
    Berapa WA Bank Neo? Nomor WhatsApp resmi BNC 'Neobank' ...
    Berapa WA Bank Neo? Nomor WhatsApp resmi BNC 'Neobank' ...
  • Bikin Haru! Sukses Pukau Upacara HUT RI, Anak-Anak SDN Cibatok Dihadiahi Liburan ke Taman Safari!
    Preview komentar:
    Berapa WA Bank Neo? Nomor WhatsApp resmi BNC 'Neobank' ...
    Berapa WA Bank Neo? Nomor WhatsApp resmi BNC 'Neobank' ...
  • Wisatawan ke Bogor Bakal Dilayani Bus Khusus
    Preview komentar:
    layanan call center wa bank neo? Segera hubungi WhatsApp ...
    layanan call center wa bank neo? Segera hubungi WhatsApp ...
Daerah
Korban KLM Pantes Bertambah...
Luar Negeri
Utang Meningkat, Rakyat Jep...
Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

23 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.