Robot Humanoid Makin Mirip Manusia, Tapi Masih Jauh dari Kegunaan Nyata
📅 Selasa, 27 Jan 2026, 06:50 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Jade GAO / AFP
RUANG robotika humanoid yang sedang berkembang di Tiongkok tidak pernah kekurangan kejutan. Dalam sebuah aksi yang baru-baru ini mencengangkan, Iron, robot humanoid ukuran penuh dari perusahaan rintisan kendaraan listrik Xpeng, berjalan di atas panggung dengan gaya berjalan yang sangat mirip manusia pada acara AI Day 2025 perusahaan otomotif tersebut.
Adegan itu begitu sureal sehingga memicu skeptisisme tentang apakah ada manusia yang tersembunyi di balik kulit lembut robot tersebut. Sebagai tanggapan, pendiri Xpeng, He Xiaopeng, membuka ritsleting Iron untuk membuktikan bahwa itu benar-benar sebuah mesin.
Meskipun peluncuran Iron dan humanoid seukuran manusia lainnya menunjukkan bahwa dunia semakin dekat dengan era fiksi ilmiah robotika, sektor ini telah dibayangi oleh pertanyaan lama yang sama: Hal praktis apa yang dapat mereka lakukan untuk membuat hidup manusia lebih baik?
Menurut laman laman CKGSB, meskipun negara Tiongkok muncul sebagai pemimpin dalam pengembangan robot humanoid, namun negara ini masih tertinggal dari AS dalam hal kemampuan robotnya.
Menurut Xi Yue, salah satu pendiri dan presiden Robot Era yang berbasis di Beijing, sebuah perusahaan rintisan robot humanoid terkemuka, momentum sektor ini dalam 12 hingga 18 bulan terakhir sebagian besar didorong oleh tiga faktor.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Iklim kebijakan yang mendukung dan modal yang melimpah, rantai pasokan perangkat keras yang matang, dan perangkat lunak yang semakin cerdas telah bergabung untuk menyuntikkan momentum ke sektor ini dan mengangkatnya ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Xi dikutip laman tersebut.
Pemimpin Tiongkok Xi Jinping telah berulang kali menyatakan pentingnya robotika bagi masa depan negara Ia menyebutnya robot humanoid sebagai, “Salah satu jalur industri masa depan yang paling penting.”
Tantangan terbesar bagi Tiongkok untuk mengejar, atau bahkan melampaui, AS, adalah pada perangkat lunak dasar dan otonomi AI robotnya. Akses terbatas ke chip AI dan teknologi canggih lainnya memperlambat kemajuan menuju robot humanoid dengan kegunaan praktis yang nyata.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sejarah Robotika
Robotika humanoid memiliki sejarah yang lebih panjang daripada yang disadari banyak orang. Sejak tahun 1973, para peneliti di Universitas Waseda Jepang memperkenalkan prototipe humanoid pertama di dunia, WABOT-1, sebuah alat kerangka berbahan logam yang membutuhkan waktu 45 detik untuk mengambil satu langkah. Sejak itu kemajuan tetap lambat selama beberapa dekade.
Sebuah tonggak penting terjadi pada tahun 2000 dengan Asimo milik Honda, yang berhasil berjalan dengan dua kaki, meskipun agak goyah. Kemajuan berkelanjutan dalam sendi motor dan algoritma memuncak pada Atlas milik Boston Dynamics yang diluncurkan pada tahun 2016 sebuah humanoid yang digerakkan secara hidrolik yang terkenal karena aksi dinamisnya, mulai dari salto hingga parkour.
Dalam beberapa tahun terakhir, pengembang humanoid Tiongkok telah muncul secara pesat. Peningkatan pesat mereka telah mengejutkan beberapa pengamat, mengingat posisi Tiongkok yang secara historis sederhana dalam bidang robotika.
“Kebangkitan Tiongkok tampak tiba-tiba dari luar, tetapi sebenarnya itu adalah hasil dari investasi, bakat, dan tenaga kerja yang terkoordinasi selama bertahun-tahun,” kata Jack Hallewell, salah satu pendiri Humanoid Robotics Technology, sebuah situs web industri.
“Bagi saya, ‘kejutan’ itu kurang menunjukkan bahwa Tiongkok datang dari belakang, dan lebih menunjukkan bahwa Barat meremehkan betapa kuatnya kombinasi itu begitu hambatan teknis mulai runtuh,” tambahnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!