Warteg Warmo Bertahan di Tengah Tantangan dengan Langkah Go Digital
📅 Senin, 26 Jan 2026, 22:52 WIB | Oleh: Yebdi Trismar
Doc: DANA
Kawasan Tebet dikenal sebagai pusat kuliner yang terus bergerak. Di tengah gempuran F&B kekinian yang serba cepat, kebiasaan pelanggan ikut berubah: mereka ingin semuanya praktis termasuk saat membayar.
Namun, di tengah dinamika tersebut, Warteg Warmo tetap berdiri di perempatan Jalan Tebet Raya. Warteg 24 jam ini telah lama menjadi pilihan banyak orang untuk makanan rumahan yang konsisten dan dapat diandalkan. Selama puluhan tahun, Warteg Warmo membangun reputasinya secara perlahan. Bukan lewat promosi, melainkan lewat kebiasaan pelanggan yang kembali. Dari pekerja malam hingga warga sekitar, banyak yang mempercayakan makan hariannya pada warteg ini.
Sejak empat tahun terakhir, Warteg Warmo dikelola oleh Syukur Iman, atau akrab disapa Iman, seorang pengusaha muda yang mengambil peran dalam melanjutkan perjalanan Warteg Warmo. Di usianya yang masih 30 tahun, Iman memikul tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan yang telah dibangun selama puluhan tahun, sekaligus memastikan warteg legendaris ini tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Tantangan yang Mengawali Perubahan
Sebelum terjun ke dunia bisnis, Iman adalah karyawan swasta berlatar belakang akuntansi. Meski pekerjaannya stabil, ia merasa dunia perkantoran tidak memberi tantangan seperti membangun usaha sendiri. “Saya memang tipe orang yang suka tantangan. Dunia kerja kantoran tantangannya kan itu-itu saja, itu yang akhirnya membuat saya memilih resign dan membuka usaha,” ujarnya.
Di tengah fase mencari peluang, Iman mendengar kabar yang cukup mengejutkan: pemilik warmo berniat untuk menjual warmo dan menutup secara permanen. Pemilik lama mempertimbangkan menjual Warmo karena tidak sanggup untuk melanjutkan bisnis ini. “Saya merasa ada rasa sayangnya dan tanggung jawab gitu terhadap rumah makan yang sudah jadi ibarat ‘rumah’ bagi banyak warga. Di sinilah, saya melihat Warmo bukan rumah makan biasa tetapi warteg legendaris yang ramai dan sudah jadi tradisi yang patut diteruskan,” jelas Iman.
Keinginan menghadapi tantangan yang lebih besar pun membawanya pada langkah berani: mengambil alih pengelolaan Warteg Warmo. Mengelola usaha yang sudah berjalan lama memberi tantangan yang berbeda yaitu menjaga kepercayaan yang sudah ada sambil membuat Warmo tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Inovasi Tanpa Menghilangkan Jati Diri
Iman memilih untuk tidak mengubah Warteg Warmo secara drastis. Ia justru merawat bangungan Warmo dengan melakukan perbaikan bertahap agar Warteg Warmo terasa lebih nyaman. “Saya tidak banyak ubah karena saya ingin mempertahankan Warmo sebagaimana mula nya. Akan tetapi ada pembaruan di beberapa titik seperti cat ulang, mengganti furnitur yang sudah cukup tua sehingga pelanggan nyaman untuk makan di sini,” jelas Iman.
Dari sisi menu, hidangan andalan yang telah lama dikenal pelanggan setia tetap dipertahankan. Di saat yang sama, Iman menambahkan beberapa pilihan menu yang lebih selaras dengan selera pelanggan muda di sekitar Tebet. “Saya memutuskan untuk mempertahankan menu-menu khas Warmo yang sudah jadi andalan, seperti sop iga. Tapi saya juga menambahkan beberapa menu baru supaya tetap relevan buat pelanggan anak muda misalnya chicken teriyaki atau katsu. Selain itu juga terdapat paket-paket menu yang sudah termasuk es teh. Harapannya, strategi ini bisa menarik pelanggan baru tanpa menghilangkan ciri khas Warmo.”
Tantangan Operasional yang Tak Terlihat Pelanggan
Di balik ramainya pelanggan, tantangan datang dari operasional harian. Awal perjalanan Iman dalam mengelola Warmo, transaksi masih mengandalkan tunai dan pencatatan manual. “Kami menggunakan metode pembayaran tunai dan pencatatan manual selama 6 bulan pertama. Sebelumnya pun pemilik lama juga menggunakan sistem yang sama,” kata Iman.
Alhasil, pembukuan sering tidak rapi dan rawan selisih mulai dari saldo yang tidak sesuai dengan uang yang diterima, hingga sulitnya melacak pemasukan harian secara detail, terutama saat volume transaksi meningkat. “Wah, awal-awal cukup rumit. Sering kali ada aja kekurangannya setiap rekap penjualan. Waktu itu pembukuannya belum rapi, masih pakai catatan sendiri, jadi sering nggak balance pas dicek di akhir bulan atau akhir tahun. Saldo sama pencatatan debit–kredit juga kadang belum ketemu,” lanjut Iman.
Lebih lanjut lagi, apabila warung sedang ramai pelanggan, pencatatan pun jadi sering tidak akurat dan masalah lainnya adalah kembalian.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!