DNA yang Dianggap Sampah Jadi Kunci Pengobatan Alzheimer
📅 Selasa, 20 Jan 2026, 07:14 WIB | Oleh: Haryo Brono“Kita belum berbicara soal terapi,” kata Voineagu. “Namun, terapi tidak mungkin dikembangkan tanpa memahami terlebih dahulu diagram pengkabelannya. Penelitian ini memberi kita gambaran lebih dalam tentang sirkuit kontrol gen di astrosit.”
Menjalankan hampir seribu uji enhancer di laboratorium bukan pekerjaan ringan. Studi ini menjadi skrining enhancer berbasis CRISPRi terbesar yang pernah dilakukan pada sel otak manusia. Namun kerja keras itu membuka peluang baru.
Dataset yang dihasilkan kini dapat digunakan untuk melatih model komputer dalam memprediksi enhancer mana yang benar-benar berfungsi sebagai saklar gen. Dengan demikian, eksperimen laboratorium di masa depan bisa dipangkas bertahun-tahun.
“Dataset ini memungkinkan ahli biologi komputasi menguji seberapa akurat model prediksi mereka,” kata Voineagu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menambahkan, tim DeepMind milik Google telah menggunakan dataset tersebut untuk menguji model pembelajaran mendalam terbaru mereka, AlphaGenome.
Harapan Pengobatan
Karena banyak enhancer hanya aktif pada jenis sel tertentu, menargetkan enhancer membuka peluang untuk mengatur ekspresi gen secara presisi, misalnya hanya pada astrosit, tanpa memengaruhi neuron atau sel otak lainnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Meskipun masih jauh dari penerapan klinis dan memerlukan banyak penelitian lanjutan, presedennya sudah ada,” ujar Voineagu, merujuk pada obat pengeditan gen pertama yang disetujui untuk anemia sel sabit, yang juga menargetkan enhancer spesifik tipe sel.
Bagi Dr. Green, penelitian enhancer adalah fondasi penting bagi pengobatan presisi di masa depan. “Kami ingin mengetahui enhancer mana yang bisa digunakan untuk menyalakan atau mematikan gen pada satu jenis sel otak, dengan cara yang sangat terkontrol,” katanya.
Penelitian ini menegaskan satu hal: bagian DNA yang dulu dianggap “sampah” justru menyimpan saklar penting kehidupan dan mungkin kunci untuk memahami serta mengobati penyakit otak yang paling kompleks. hay
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!