DNA yang Dianggap Sampah Jadi Kunci Pengobatan Alzheimer
📅 Selasa, 20 Jan 2026, 07:14 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Philippe Lopez / AFP
KETIKA orang membayangkan DNA, yang terlintas biasanya adalah deretan gen yang menentukan warna mata, tinggi badan, atau kecenderungan penyakit. Padahal, gen hanyalah sebagian kecil dari cerita besar di dalam tubuh manusia.
Faktanya, hanya sekitar 2 persen DNA manusia yang berisi sekitar 20.000 gen. Sisanya sekitar 98 persen selama bertahun-tahun dicap sebagai genom non-pengkodean, bahkan kerap disebut “DNA sampah” atau Junk DNA. Label itu kini semakin dipertanyakan. Bagian “sunyi” genom ini ternyata menyimpan banyak saklar kontrol yang menentukan kapan gen menyala, seberapa kuat bekerja, dan di sel mana ia aktif.
Saklar Tersembunyi
Penelitian terbaru dari University of New South Wales (UNSW) Sydney menambah bukti bahwa DNA non-pengkodean memegang peran krusial, khususnya di otak. Para peneliti mengidentifikasi ratusan saklar DNA yang mengatur astrosit sel otak yang berfungsi menopang neuron dan diketahui terlibat dalam penyakit Alzheimer.
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Neuroscience pada 18 Desember, tim dari School of Biotechnology & Biomolecular Sciences UNSW melaporkan hasil pengujian hampir 1.000 kandidat saklar DNA pada astrosit manusia yang ditumbuhkan di laboratorium.
Sebaiknya Anda baca juga:
Saklar ini dikenal sebagai enhancer, yakni untaian DNA yang dapat mengatur gen meski posisinya sangat jauh, bahkan terpisah ratusan ribu “huruf” DNA dari gen targetnya. Jarak inilah yang selama ini membuat enhancer sulit dipelajari.
Menguji hampir 1.000 enhancer sekaligus
Untuk menembus tantangan tersebut, para peneliti menggabungkan dua teknologi mutakhir: CRISPRi dan pengurutan RNA sel tunggal. CRISPRi memungkinkan peneliti “membisukan” bagian DNA tertentu tanpa memotongnya, sementara pengurutan RNA sel tunggal membaca aktivitas gen di setiap sel secara individual.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kami menggunakan CRISPRi untuk mematikan enhancer potensial di astrosit dan melihat apakah hal itu mengubah ekspresi gen,” ujar penulis utama studi ini, Dr. Nicole Green, dikutip dari Science Daily.
Jika ekspresi gen berubah, enhancer tersebut dinyatakan fungsional dan peneliti dapat melacak gen apa saja yang dikendalikannya. Hasilnya, dari hampir 1.000 kandidat, sekitar 150 enhancer terbukti benar-benar aktif. Yang mengejutkan, sebagian besar enhancer fungsional ini mengatur gen-gen yang terlibat dalam penyakit Alzheimer.
Penyaringan ini secara drastis mempersempit area pencarian dalam lautan DNA non-pengkodean, sekaligus memberikan petunjuk genetik baru yang relevan dengan Alzheimer.
Mengapa DNA “di antara gen” penting?
Profesor Irina Voineagu, peneliti senior yang memimpin studi ini, mengatakan temuan tersebut juga penting untuk menafsirkan berbagai riset genetika penyakit lain. “Ketika peneliti mencari perubahan genetik yang menjelaskan penyakit seperti hipertensi, diabetes, hingga gangguan kejiwaan dan neurodegeneratif seperti Alzheimer, sering kali perubahan itu tidak ditemukan di dalam gen, melainkan di antara gen,” ujarnya.
Untuk pertama kalinya, tim UNSW secara langsung menguji wilayah “di antara gen” tersebut pada astrosit manusia dan menunjukkan enhancer mana yang benar-benar mengendalikan gen-gen kunci di otak.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!